2 Desember 2009 oleh Oemar Bakrie
Sudah beberapa lama saya melihat di papan pengumuman ada flyer seperti gambar di bawah ini. Nggak ada salahnya saya ikut menyebarkan informasi ini, siapa tahu ada yg ingin mengikuti jejak saya … (“ngracuni” dot com) hehehe …
Crop gambar memang kurang jelas tapi file aslinya bisa diunduh dari situs yg memuat informasi tsb. yaitu di:
http://indonesia.campusfrance.org/IMG/pdf/Flyer_2010.pdf
Keterangan lainnya secara lengkap juga ada di situs tsb. Yg jelas batas akhir pengiriman berkas (via e-mail) adalah 31 Maret 2010.
Selamat mencoba bagi yg berminat dan semoga sukses !


Ditulis dalam Pendidikan, Souvenir de France, awal dari segalanya, wawasan | Bertanda France, perancis | 4 Komentar »
1 Desember 2009 oleh Oemar Bakrie
Saat listrik PLN sering mati, maka banyak hal harus dilakukan secara manual. Termasuk “pekerjaan” di kantor yg satu ini …

Tulisan yg berkaitan:
Ditulis dalam intermezzo | Bertanda humor, iseng, kartun, PLN | 8 Komentar »
26 November 2009 oleh Oemar Bakrie
Hari ini 25 November adalah Hari Guru Nasional. Sebagai ungkapan terima kasih dan penghargaan pada kesempatan ini saya ingin mengenang para guru saya dahulu, dengan mengenang masa kecil saya. Saya hanya ingat sebagian kecil karena hal itu sudah lama sekali. Sedikit banyak ada juga hubungannya dengan “guru” saya yg belakangan seperti saya ceritakan sebelumnya.
TK Tunas Rimba Madiun tahun 68. Guru kami ada dua orang yaitu Bu Endang dan Bu Wid (nama lengkapnya saya lupa), yg satu agak galak yg satu lagi sangat penyabar. Saya dengar Bu Endang kemudian menjadi guru SD sementara Bu Wid masih setia menjadi guru TK yg sama. Bahkan saat saya mengantar adik bungsu saya sekolah di TK itu 13 tahun kemudian saat saya sudah tingkat pertama ITB, Bu Wid masih menjadi guru di sana. Saat saya mudik libur minggu tenang sebelum ujian semester Ibu sengaja meminta saya mengantar adik supaya saya bisa bertemu Bu Wid. Dan, tidak dinyana Bu Wid masih ingat saya dan beliau masih tampak seperti dulu waktu saya masih TK …
SD Diponegoro Madiun tahun 69-an. Entah kenapa saya tidak ingat sama sekali nama guru saya dari kelas 1 sampai kelas 3. Yg saya ingat hanya kepala sekolahnya yaitu Ibu Kartini dengan dandanan khasnya tiap hari, yaitu kain dan kebaya lengkap dengan sanggulnya. Sangat mirip dengan R.A. Kartini yg pahlawan emansipasi wanita. Karena lekatnya image kepala sekolah yg bernama dan berpenampilan ala R.A. Kartini maka kadang-kadang SD saya itu seringkali salah disebut sebagai SD Kartini yg kebetulan juga salah satu sekolah terkenal saat itu. Lagipula Diponegoro dan R.A. Kartini kan sama-sama Pahlawan Nasional.
Saya ingat guru Agama Islam kami yg sangat piawai menceritakan kisah para Nabi. Sangat menggugah imajinasi anak-anak, meski belakangan saya tahu bahwa cerita-cerita tsb. banyak dibumbui dengan improvisasi sang guru namun tidak keluar dari pakem utama.
Biasanya saat pelajaran agama Islam beberapa murid yg beragama lain boleh keluar kelas alias bebas. Tapi ada seorang teman yg tidak mau keluar kelas seperti yg lain. Ketika ditanya dia menjawab bahwa dia sudah pindah agama. Tentu saja guru tidak terlalu menganggap serius karena kami masih anak-anak kelas 1 (atau kelas 2) SD. Dan, guru Agama membiarkan teman tsb. ikut pelajaran Agama Islam yg waktu itu memang lebih banyak diisi dengan cerita para Nabi.
Saat naik kelas 4 saya harus pindah sekolah mengikuti ayah yg dipindah-tugaskan ke Surabaya. Cerita “cah ndeso” pindah ke ibukota propinsi (meski hanya ke bagian pinggirannya) mudah-mudahan bisa saya sambung pada kesempatan lain.
Bagaimana dengan anda? Masihkah anda ingat guru-guru anda di masa lalu?
Ditulis dalam Catatan kecil, Pendidikan, perjalanan hidup, renungan | Bertanda Hari Guru, Sekolah Dasar, Taman Kanak Kanak | 12 Komentar »
22 November 2009 oleh Oemar Bakrie
Tanggal 10-12 November 2009 yg lalu saya menghadiri Pertemuan Ilmiah Tahunan HAGI ke 34 di Hotel Sheraton Yogyakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya saya tidak menyampaikan makalah, karena saya tidak punya sesuatu yg “baru” untuk dipresentasikan. Lagipula sudah seharusnya saya memberikan kesempatan ke mereka yg lebih muda termasuk mahasiswa untuk tampil.
Selagi ada kesempatan, saya selalu berusaha untuk hadir pada acara seperti itu karena selain sebagai Pengurus Pusat HAGI saya juga merasa perlu me-refresh pikiran untuk memperoleh ide-ide baru, ketemu dengan teman lama maupun teman baru dsb. Meskipun setelah dapat ide segar soal implementasinya merupakan masalah lain lagi …
Kesempatan semacam ini saya manfaatkan pula untuk bersosialisasi dengan kolega, alumni, mantan mahasiswa, sebagaimana mestinya anggota suatu komunitas dalam hal ini komunitas profesi geofisika. Kadang-kadang ada juga beberapa peneliti asing yg hadir sehingga bisa menambah wawasan tentang perkembangan mutakhir. Kalau harus ikutan seminar ke LN kan mahal …
Entah karena pemerintah sedang mencoba merealisasikan program pemanfaatan potensi energi geotermal di masa mendatang, atau sekedar kebetulan, di acara itu saya bertemu dengan para “dedengkot” geotermal. Saya bertemu dengan Pak Yogi yg mantan pembimbing saya waktu menyelesaikan S-1 hampir 25 tahun yg lalu. Beliau waktu itu adalah Kepala Seksi Geofisika, Dinas Geotermal Pertamina.
Meskipun sudah beberapa kali bertemu kembali dengan beliau sebelumnya tapi karena aktivitas saya dalam bidang geotermal tidak banyak maka kami jarang bertemu dan pertemuan kembali waktu itu cukup berkesan. Apalagi Pak Yogi membawa serta mantan supervisor-nya yaitu Prof. Hochstein dari Geothermal Institute Univ. of Auckland, New Zealand. Saya juga sudah beberapa kali bertemu dengan beliau, termasuk ikut kursus-nya.
Kesempatan langka seperti itu tentu saja tidak saya lewatkan untuk sekedar bernostalgia dengan cerita lama, berdiskusi dan tentu saja berfoto sehingga jadi foto 3G alias 3 generasi seperti di bawah ini …

Sebenarnya saya juga bertemu dengan mantan mahasiswa bimbingan pertama saya. Kami hanya beda angkatan 2 tahun, tapi saat dia tingkat akhir saya sudah jadi dosen (baru alias brondong …) Karena kelangkaan SDM waktu itu, saya diminta untuk menjadi pembimbing TA-nya. Namun, baru sempat beberapa saat saya keburu harus pergi ke Perancis untuk melanjutkan sekolah … Akhirnya dia dibimbing langsung oleh Pak Yogi dan bahkan sejak lulus sampai sekarang dia bekerja di Pertamina Geotermal. Wah … kalau sempat foto berempat bisa jadi foto 4G atau minimal 3.5G … hehehe …
Ditulis dalam Catatan lain, Dongeng Geofisika, ITB, Pendidikan, Souvenir de France, perjalanan, perjalanan hidup | Bertanda geotermal, HAGI, Pertamina | 11 Komentar »
19 November 2009 oleh Oemar Bakrie
Siapa bilang orang sunda nggak bisa bilang F ? Ini buktinya …

Ditulis dalam intermezzo | Bertanda foto, iseng | 26 Komentar »
13 November 2009 oleh Oemar Bakrie
Rambu lalu-lintas yg saya maksud adalah segi-tiga terbalik yg artinya kita harus memberi prioritas kepada pengguna jalan atau kendaraan yg melintas di depan kita. Rasanya sudah nggak pernah lihat lagi rambu seperti itu. Dulu hampir ada di setiap ujung jalan yg bertemu dengan jalan yg lebih besar.
Di Australia yg saya lihat selain ada rambu tsb. di ujung jalan ada juga garis putih putus-putus dan di situ meskipun kendaraan dari arah samping (kanan, di jalan yg lebih besar) tidak ada tetap saja kita harus berhenti dulu. Itu kata teman saya. Demikian pula di bundaran, kendaraan yg sudah ada di bundaran selalu memperoleh prioritas untuk lewat duluan. Kita yg baru akan masuk bundaran harus berhenti dulu.
[Yg saya nggak ngerti adalah kenapa di Perancis (atau di tempat lain ada juga?) tanda segi-tiganya jadi tidak terbalik ya? ...]
Mendahulukan pengguna jalan yg sudah seharusnya mendapat prioritas tampaknya sudah jarang kita lakukan. Yg penting siapa duluan. Makanya kalau terjadi kemacetan di persimpangan atau di perteman dua jalan sering kali tidak ada yg mau mengalah memberi satu-dua kendaraan lewat duluan untuk bisa memecah kebuntuan. Hal itu karena tidak ada jaminan nanti orang lain akan juga mau memberi jalan kita …
Satu-satunya kondisi dimana orang mau memberikan kita kesempatan jalan duluan adalah ketika kita keluar tempat parkir di mal-mal pada jam-jam penuh pengunjung. Yah … karena orang itu ada maunya, yaitu mau menempati bekas tempat parkir kita …
Anda punya pengalaman dalam hal seperti ini ?




Ditulis dalam Catatan kecil | Bertanda lalu lintas, prioritas, rambu | 14 Komentar »
8 November 2009 oleh Oemar Bakrie
Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, kami sempat menyewa mobil untuk sekedar keliling kota Perth dan jalan-jalan ke Fremantle. Kami sempat jalan-jalan ke King’s Park untuk melihat-lihat taman yg luas dan asri. Meskipun yg nyetir adalah teman yg sudah pernah tinggal di Perth, tetap saja saya diminta untuk jadi navigator sambil baca buku peta. Terkadang sempat kebablasan sehingga harus cari jalan memutar yg lebih jauh … hihihi navigator-nya nggak profesional !
Mobil tsb. cukup ditinggal di lapangan parkir airport keesokan harinya saat kami kembali ke Indonesia.
Sebagaimana umumnya di luar negeri, aturan lalu lintas sangat ketat. Oleh karena itu ketika diminta untuk gantian nyetir saya nggak berani.
Saya perhatikan ternyata di sana banyak sekali rambu lalu lintas yg di Indonesia setahu saya sudah jarang ada atau bahkan sudah tidak ada lagi (ternyata ada juga ya tanda lalu-lintas langka atau bahkan punah, bukan hanya binatang … hehehe) …
Dulu waktu belajar tanda-tanda lalu lintas di sekolah (dalam rangka pelajaran apa ya? atau waktu mau ujian SIM C?) saya ingat tanda itu ada di buku dan masih saya jumpai di jalan. Saya ingat betul karena tanda itu paling susah untuk diingat maknanya, karena menurut saya tidak terlalu eksplisit hubungan antara gambar / bentuk-nya dengan perintah-nya.
Mungkin rambu lalu lintas tsb. sudah tidak ada lagi karena paling susah untuk dipatuhi. Kalau rambu itu masih ada di setiap tempat yg diperlukan … wah bakalan banyak tuh korban yg kena semprit pak polisi … hehehe …
Sebagai bahan tebak-tebakan, hayo … ada yg bisa menebak rambu lalu lintas seperti apakah itu ????

Ditulis dalam Catatan kecil, perjalanan | Bertanda lalu lintas, Perth | 19 Komentar »
5 November 2009 oleh Oemar Bakrie
Sekalian membahas sedikit tentang “kuliner” maka saya tampilkan foto sarapan saya pagi ini. Murah-meriah cuma sekitar sepuluh ribu rupiah, tapi hanya berlaku pada jam 7 – 10 pagi. Tempatnya? tinggal tebak saja dari corporate color dan logo yg ngintip di pinggir gelas … Wah jadi iklan nih, tapi nggak apa-apalah karena sudah memberi kemudahan saat kepepet kalau tidak sempat makan pagi di rumah …
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Bandung, Catatan kecil, intermezzo | Bertanda foto, iseng, kuliner | 27 Komentar »
29 Oktober 2009 oleh Oemar Bakrie
Sebenarnya ini agak berlebihan kalau disebut sebagai wisata kuliner …
Hotel tempat saya menginap selama di Perth ternyata tidak menyediakan makan pagi yg termasuk dalam harga kamar seperti biasanya hotel di Indonesia. Sebagai opsi-pun tidak, tapi ada restoran dan bar di sebelah lobby. Ada untungnya juga, karena saya tidak perlu memilih dan mempertanyakan kehalalan makanan yg disajikan. Lagi pula saya sebenarnya tidak biasa makan makanan berat untuk sarapan, kecuali kalau sedang menginap di hotel (supaya tidak mubazir sudah bayar mahal, sayang kalau tidak dimanfaatkan … hehehe).
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Catatan kecil, intermezzo, perjalanan | Bertanda foto, kopi, kuliner, Perth | 25 Komentar »
25 Oktober 2009 oleh Oemar Bakrie
Saya ke Australia kemaren itu adalah dalam rangka “menengok” para mahasiswa peserta program Joint Degree Petroleum Geophysics yg merupakan kerjasama antara ITB – Curtin Univ. Technology – Pertamina. Mereka adalah mahasiswa batch pertama kerjasama tsb.
Seorang kawan dari Pertamina EPTC (Exploration & Production Technology Center) membawa data yg akan digunakan oleh mahasiswa untuk Final Project mereka. Kami juga membicarakan rencana program untuk batch berikutnya yg akan segera diumumkan ke universitas yg memiliki program studi dalam bidang Geofisika. Mudah-mudahan rencana tsb. dapat dilaksanakan sesuai jadwal dan lancar.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Catatan kecil, Dongeng Geofisika, ITB, Pendidikan, Souvenir de France, perjalanan | Bertanda foto, Pertamina, Perth | 14 Komentar »