Feeds:
Tulisan
Komentar

Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, kami sempat menyewa mobil untuk sekedar keliling kota Perth dan jalan-jalan ke Fremantle. Kami sempat jalan-jalan ke King’s Park untuk melihat-lihat taman yg luas dan asri. Meskipun yg nyetir adalah teman yg sudah pernah tinggal di Perth, tetap saja saya diminta untuk jadi navigator sambil baca buku peta. Terkadang sempat kebablasan sehingga harus cari jalan memutar yg lebih jauh … hihihi navigator-nya nggak profesional !

Mobil tsb. cukup ditinggal di lapangan parkir airport keesokan harinya saat kami kembali ke Indonesia.

Sebagaimana umumnya di luar negeri, aturan lalu lintas sangat ketat. Oleh karena itu ketika diminta untuk gantian nyetir saya nggak berani.

Saya perhatikan ternyata di sana banyak sekali rambu lalu lintas yg di Indonesia setahu saya sudah jarang ada atau bahkan sudah tidak ada lagi (ternyata ada juga ya tanda lalu-lintas langka atau bahkan punah, bukan hanya binatang … hehehe) …

Dulu waktu belajar tanda-tanda lalu lintas di sekolah (dalam rangka pelajaran apa ya? atau waktu mau ujian SIM C?) saya ingat tanda itu ada di buku dan masih saya jumpai di jalan. Saya ingat betul karena tanda itu paling susah untuk diingat maknanya, karena menurut saya tidak terlalu eksplisit hubungan antara gambar / bentuk-nya dengan perintah-nya.

Mungkin rambu lalu lintas tsb. sudah tidak ada lagi karena paling susah untuk dipatuhi. Kalau rambu itu masih ada di setiap tempat yg diperlukan … wah bakalan banyak tuh korban yg kena semprit pak polisi … hehehe …

Sebagai bahan tebak-tebakan, hayo … ada yg bisa menebak rambu lalu lintas seperti apakah itu ????

Traffic Signs

Sekalian membahas sedikit tentang “kuliner” maka saya tampilkan foto sarapan saya pagi ini. Murah-meriah cuma sekitar sepuluh ribu rupiah, tapi hanya berlaku pada jam 7 – 10 pagi. Tempatnya? tinggal tebak saja dari corporate color dan logo yg ngintip di pinggir gelas … Wah jadi iklan nih, tapi nggak apa-apalah karena sudah memberi kemudahan saat kepepet kalau tidak sempat makan pagi di rumah …

Tidak setiap kali perlu makan pagi saya ke sini sih, hanya kadang-kadang saja. Terutama kalau masih terlalu pagi kalau saya langsung ke kampus setelah mengantar anak-anak saya sekolah.

Selain itu, saya biasanya kalau sudah di kampus sering “malas” untuk ke luar kampus. Jadi kalau ada keperluan di luar kampus pagi, maka biasanya sekalian saja saya tidak ke kampus dan nongkrong di tempat ini (dan sejenisnya) dulu …

SNC00051

Sebenarnya ini agak berlebihan kalau disebut sebagai wisata kuliner …

Hotel tempat saya menginap selama di Perth ternyata tidak menyediakan makan pagi yg termasuk dalam harga kamar seperti biasanya hotel di Indonesia. Sebagai opsi-pun tidak, tapi ada restoran dan bar di sebelah lobby. Ada untungnya juga, karena saya tidak perlu memilih dan mempertanyakan kehalalan makanan yg disajikan. Lagi pula saya sebenarnya tidak biasa makan makanan berat untuk sarapan, kecuali kalau sedang menginap di hotel (supaya tidak mubazir sudah bayar mahal, sayang kalau tidak dimanfaatkan … hehehe).

Karena hotel terletak di down-town jadi cukup dekat jalan kaki untuk sampai ke pusat keramaian, mall dan kafe. Hari pertama, karena sudah merasa cukup makan roti yg saya beli malam sebelumnya, saya hanya menemani minum kopi teman seperjalanan di kedai kebab. Tiga hari berikutnya saya selalu sarapan pagi di kafe Exomod yg terletak di Barrack Street yg menyediakan akses internet gratis selama 40 menit pertama. Saya hanya memilih banana cake atau raisin cake secara bergantian, plus cappuccino tentu saja.

Sebenarnya banyak alternatif kafe lainnya, ada Croissant Corner dll. Tapi seperti biasa saya pengen aman, malas mencoba hal-hal lain / baru … Lagi pula kafe pilihan saya sudah buka jam 7 pagi sementara yg lain umumnya baru buka jam 8 atau 9. Sayang tidak sempat foto-foto di situ karena saya jalan sendiri, mau minta tolong orang kok kelihatannya sibuk semua, begitu beli kopi langsung dibawa pergi dan diminum sambil jalan …

Saya sebenarnya tidak terlalu bermasalah dengan menu non-Indonesia, yg penting halal. Tapi teman yg satu lagi baru dua hari sudah pengen makanan Indonesia. Karena teman tsb. alumni Curtin Univ. maka saya diajak ke salah satu rumah makan Indonesia langganannya dulu, yaitu Batavia Corner yg terletak di Albany Highway. Sebenarnya menunya biasa saja, tapi cukup bikin penasaran.

perth_1

Pada hari ke dua saya diajak makan malam oleh mantan mahasiswa saya dan teman sesama alumni Geofisika-ITB ke Cicerello yg terletak agak jauh, yaitu di Fremantle. Menu khas-nya adalah fish and chips alias ikan dan kentang goreng. Saya pilih ikan bakar, bukan yg digoreng. Katanya sih di situ bukan yg terenak tapi yg paling terkenal, jadi rasanya suatu keharusan makan di situ kalau sedang ke Perth …

Itulah sebabnya, keesokan harinya teman seperjalanan saya mengajak ke Cicerello lagi, makanya saya punya foto-foto di sana dengan suasana siang hari yg cukup cerah …

perth_2

Yang agak unik adalah benda berbentuk piringan seperti di foto di bawah ini, yg diberikan setelah kita pesan dan membayar. Awalnya saya tidak tahu benda itu untuk apa (wah ndeso juga ya …) Ternyata itu adalah semacam pager yg akan berbunyi dan lampunya menyala jika makanan pesanan kita sudah siap. Kita harus mengambil sendiri makanan ke counter

perth_3

Sebenarnya kita bisa makan di dek luar dengan pemandangan kapal-kapal yg sedang sandar. Meskipun sudah mulai musim semi dengan temperatur rata-rata 20 derajat Celcius tapi angin yg cukup kencang membuat udara masih terasa dingin bagi orang tropis … makanya kami makan di dalam saja …

perth_4

Saya ke Australia kemaren itu adalah dalam rangka “menengok” para mahasiswa peserta program Joint Degree Petroleum Geophysics yg merupakan kerjasama antara ITB – Curtin Univ. Technology – Pertamina. Mereka adalah mahasiswa batch pertama kerjasama tsb.

Seorang kawan dari Pertamina EPTC (Exploration & Production Technology Center) membawa data yg akan digunakan oleh mahasiswa untuk Final Project mereka. Kami juga membicarakan rencana program untuk batch berikutnya yg akan segera diumumkan ke universitas yg memiliki program studi dalam bidang Geofisika. Mudah-mudahan rencana tsb. dapat dilaksanakan sesuai jadwal dan lancar.

Pada awalnya saya agak khawatir kurang bisa berkomunikasi karena punya pengalaman dengan aksen Australia yg susah dimengerti. Waktu itu ada pekerjaan survey gravity dengan satu oil company yg exploration manager-nya dari Australia. Pada beberapa pertemuan sulit sekali menangkap detail pembicaraannya. Untung saya masih bisa interpetasi garis besarnya. Saya kemudian minta konfirmasi via e-mail, kalau tulisan kan nggak pakai aksen … hehehe …

Ternyata counterpart yg kami temui berasal dari Rusia dan Slovakia. Hanya bagian administrasi yg memang asli orang Australia. Itupun dengan aksen Australia yg masih bisa dimengerti. Mungkin dia sengaja bicara agak pelan dengan kami. Untung saya dan profesor saya punya cukup banyak pengalaman kerjasama riset dengan peneliti dari Eropa timur yg tahun 90-an mulai membuka diri, sejak glaasnost dan perestroika-nya Mikhail Gorbachev. Jadi sudah cukup familiar denghan aksen mereka yg khas dengan “er” yg bergetar itu …

Kami juga menemui penanggung-jawab pusat bahasa yg menangani peningkatan kemampuan bahasa Inggris mahasiswa. Dia datang dari Kanada. Australia memang cukup heterogen dan multi-etnis karena memang banyak pendatang. Secara bercanda ada mahasiswa yg bilang bahwa masih akan ada pendatang lagi dari Srilanka, itu lho yg sedang terapung di kapal yg tertahan di Indonesia … hehehe … aya aya wae …

curtin_4

Foto gedung ARRC (Australian Resources Research Center) yg dikelola secara bersama antara CSIRO (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation, semacam LIPI-nya Australia) dengan CUT dan Univ. of Western Australia.

curtin_2

Menurut mahasiswa, berfoto di depan papan nama gedung ini wajib bagi yg berkunjung ke sini …

curtin_3

Di dekat Pusat Bahasa (Faculty of Humanities) ada taman kecil yg diberi nama Speaker’s Corner. Bench-nya berbentuk melingkar. Di belakang tempat duduk ada tulisan yg menunjukkan nama berbagai bahasa di dunia, tentu saja ada bahasa Indonesia. Karena belum sempat juga “pulang kampung” maka sebagai hiburan saya sempatkan ber-foto di sini … hehehe …

Minggu pagi 18 Oktober 2009 saya berangkat ke Australia karena ditugaskan FTTM-ITB untuk berkunjung ke Curtin University of Technology (CUT) yg terletak di Perth, Western Australia. Cerita agak lengkapnya nanti menyusul saja, sedikit demi sedikit …

Kita biasanya selalu menyiapkan uang US$ setiap kali bepergian ke luar negeri. Selain karena secara “tradisional” nilainya cukup kuat, mungkin karena mata uang tsb. diterima di seluruh dunia. Meskipun demikian, saya selalu menyiapkan sejumlah kecil mata-uang tempat yg saya kunjungi, untuk hal-hal yg perlu segera seperti makan, transpor dsb.

Hal tsb. dipicu pengalaman saya dulu waktu pulang liburan ke Indonesia saat saya masih sekolah di Perancis. Karena sesuatu hal semua uang Franc Perancis saya tukarkan ke rupiah (pastinya karena terdesak kebutuhan, sebab selama sekolah di LN gaji cuma tinggal gaji pokok PNS yg segede upil itu … hehehe). Tinggal uang receh yg tidak seberapa.

Begitu kembali dari libur, saya cukup percaya diri hanya membawa uang dollar AS persediaan saya. Nggak tahunya karena masih terlalu pagi sampai di airport Charles de Gaulle Paris maka money changer masih tutup. Kalau nggak bisa tukar uang, saya nggak bisa naik kereta/metro/subway untuk pulang ke asrama. Setelah keliling-keliling dengan bawaan bagasi yg cukup berat akhirnya ada satu money changer yg buka. Seperti biasa rate di tempat keramaian apalagi airport tentu sangat rendah …

Nah, waktu kemaren pergi ke Australia sebenarnya saya juga sudah siap dari Indonesia. Namun karena memang bekalnya cuma sedikit, terpaksa saya tetap harus menukarkan uang dollar AS ke dollar Australia. Yg mengherankan uang 100 US$ cuma jadi sekitar 90 AU$. Padahal selama ini kita tahu kalau nilai dollar AS lebih tinggi dari pada dollar Australia kan?

Memang sih, katanya karena saya tukar cuma sedikit maka ada komisi 10 AU$. Tapi kalaupun toh nggak ada komisi berarti 1 US$ kurang lebih sama dong dengan 1 AU$ … Tampaknya saat ini AU$ semakin menguat sementara US$ agak melemah sehingga nilainya hampir 1:1. Namun, kalau di Indonesia masih terasa bedanya karena waktu itu saya tukar 1 AU$ sekitar Rp. 8500,- sementara 1 US$ sekitar 9400,-

Jadi kalau ada yg mau pergi ke Australia dalam waktu dekat ini, mungkin ada baiknya untuk berbekal uang AU$ dari Indonesia, terutama kalau akan “belanja” dalam jumlah banyak. Itupun perlu di-cek ulang karena ini hanya ulasan sekilas dari orang yg tidak ngerti urusan valas … hehehe. Kalau ada yg lebih ngerti silakan memberikan masukan atau komentar.

dollar_aussie

Menunggu telepon ?

Menunggu telepon ? sepertinya jadi topik yg hangat beberapa hari terakhir … Nah, silaken mau nelpon ke telpon yg mana …

hape1

Minggu yg lalu, Jum’at tanggal 2 Oktober 2009 banyak diantara kita mengenakan batik ke sekolah, kuliah, ke tempat kerja dll. Seperti kita tahu, hal itu adalah untuk menyambut penetapan Batik sebagai Warisan Budaya (Cultural Heritage) oleh UNESCO.

Saya sendiri sebenarnya tidak punya rencana untuk mengenakan batik karena tidak biasa pakai batik ke kantor. Apalagi saya tidak mendengar ada himbauan khusus dari pimpinan kampus untuk hal itu. Saya hanya mengenakan batik saat menghadiri undangan pernikahan, undangan makan malam menyambut tamu saat ada seminar Internasional dan acara-acara informal lainnya. Sesekali saya mengenakan batik untuk menghindari pemakaian dasi pada kesempatan tertentu yg masih saya anggap cocok …

Lanjut Baca »

Beberapa hari yg lalu saya diminta oleh pengurus Himpunan Mahasiswa Geofisika Indonesia (HMGI) untuk menjadi juri pada final Student Paper Contest yg mereka selenggarakan. HMGI sendiri adalah semacam Student Chapter-nya HAGI yg menghimpun mahasiswa dalam bidang Geofisika dari seluruh Indonesia. Tentu saja pesertanya datang dari berbagai daerah/Universitas yg menyelenggarakan program pendidikan Geofisika/Geologi.

Lanjut Baca »

Belum genap sebulan gempa selatan Jawa Barat (7.3 SR), kemaren (30/09/2009) terjadi gempa di lepas pantai Padang (7.6 SR). Bahkan tadi pagi (01/10/2009) juga terjadi gempa di salah satu segmen Patahan Sumatra di utara Bengkulu (7.0 SR) maupun di Mentawai (5.0 SR). Tampaknya gempa yg terjadi di Patahan Sumatra itu “dipicu” gempa sehari sebelumnya (Sri Widiyantoro, Tempo Interaktif).

Lanjut Baca »

Selamat Idul Fitri 1430H

Takabbalallahu mina waminkum, siyamana wa siyamakum. Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H. Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir & batin.

Tulisan Sebelumnya »