Bertahun-tahun yang lalu ketika saya masih ‘muda’ dan sekolah S3 di Paris Perancis, dalam perjalanan naik metro (subway) saya mendapati di suatu stasiun terdapat patung yang cukup besar seperti gambar disamping ini. Ah …suatu ‘deja vu’ … karena saya ingat semasa kecil (mungkin TK atau kelas 1 SD) di tahun 1970-an bapak saya pernah membuat miniatur patung seperti itu dalam ujian praktek sarjana IKIP senirupa. (waktu itu Bapak yang sudah bekerja di bidang kehutanan dan punya 3 anak, kuliah lagi untuk menyalurkan bakat seninya).
Sesuatu yang tak disangka-sangka, samar-samar bayangan peristiwa lebih dari 20 tahun yang lalu muncul di benak saya. Saya sendiri sebenarnya sama sekali nggak ngerti seni. Saya bahkan baru tahu kalau nama/judul patung tersebut adalah ‘Sang Pemikir’ (Le Penseur, The Thinker) karya August Rodin sekitar tahun 1881 yang sangat dikenal di dunia seni. Ternyata patung tiruan di stasiun metro Varrene tsb. adalah untuk menandai bahwa dekat stasiun itu terdapat musium August Rodin yang memamerkan karya-karyanya.
Pada kesempatan lain saya kunjungi musium itu untuk memenuhi rasa penasaran saya. Meskipun saya nggak ngerti soal seni tapi saya bisa juga menikmati dan meng-apresiasi seni. Selain kagum dengan aspek artistik, juga aspek teknis bagaimana pada jaman itu seniman seperti August Rodin bisa menghasilkan karya patung berukuran lumayan besar menggunakan berbagai bahan seperti perunggu, marmer, granit dan media lainnya. Demikian juga dengan perhatian pemerintah dalam memelihara warisan seni dan budaya pada suatu musium yang luas dan asri (beberapa patung besar diletakkan di taman, sebagian lain di dalam ruangan).

Pada kesempatan ulang tahun bapak, saya kirim foto saya di depan patung asli ‘Le Penseur’ ke adik-adik saya di Bandung dan saya minta mereka membingkai foto itu bersama foto bapak yang sedang membuat miniatur/tiruannya, sebagai kado ualng tahun. Menurut cerita adik-adik, Bapak saya tak kuasa menahan air mata haru.
Bapak dan anak, terpisah oleh ruang dan waktu … bersatu dalam karsa dan karya.
Dan saya makin ingin cepat pulang ke tanah-air yang sudah sekian lama saya tinggalkan …
ah… jadi pengin cepat pulang juga nemuin bapak….
*hei, hei, hei…. masih ingat ma aku nggak, kawan?*
Tapi kalo disimak lagi2 patungnya koq seperti orang merenung, ketimbang orang lagi berfikir.
*wah temannya bu titah yah?*
Je veux rentre chez moi. Mais ou? En Indonesie? En France?
@juliach
peu emporte, l’importance est d’etre chez soi ou vous etez,
n’est ce pas ?
tidak penting, yg penting anda merasa di rumah sendiri di manapun anda berada, bukan begitu ?
jadi teringat bapakku…hik beliau udah meninggal. tapi banyak ajarannya merasuk ke tulang sumsum…..
tuk patung ingat kata-kata ’saya berpikir maka saya ada’ ………. lupa siapa buat kata-kata asyik itu
@basoke88
Itu kata-katanya René Descartes yg aslinya dalam bahasa latin “cogito ergo sum” tapi karena dia orang Perancis maka sering pula diterjemahkan menjadi “je pense donc je suis”
Wah..saya ingat gedung IKIP Malang cabang Madiun itu pak (latar belakang bapaknya Pak Grandis mematung), karena bapak saya (Pak Marsono) dulu juga dosen di sana di jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (FKSS).
Seingat saya patung “The Thinker” itu sangat disenangi oleh Mendikbud Daoed Joesoef pada waktu itu. Dan sempat direproduksi untuk menjadi sampul buku Pak Jujun Suriasumantri orang lulusan IPB yang melanjutkan ke Harvard, yang judul bukunya “Ilmu dalam Perspektif : Sebuah Essai tentang Filsafat Ilmu”…kalau tidak salah yang kata pengantarnya oleh Pak Andi Hakim Nasoetion…
@Pak Tri
Patung itu kelihatannya cukup universal. Setahu saya banyak tiruan atau miniatur-nya dijadikan semacam “landmark” jurusan tertentu di berbagai universitas di seluruh dunia. Ada yg jurusan filsafat (karena mikir/merenung), ada pula yg di fakultas kedokteran karena mungkin menggambarkan anatomi tubuh manusia yg sangat pas …