Masa-masa sekarang ini siswa kelas 3 SMA sedang dihadapkan pada pilihan perguruan tinggi dan program studi atau jurusan (beberapa malah sudah test masuk PT). Demikian pula dengan mahasiswa ITB angkatan 2007 (tingkat 1) yg harus menentukan pilihan program studi dalam lingkup fakultasnya. Untuk program studi tertentu mahasiswa tingkat 2 juga diharapkan memilih semacam opsi atau spesialisasi, seperti dibahas Pak Arry di salah satu postingnya.
Dalam komentar atas tulisan saya sebelumnya, saya diingatkan oleh seorang mantan mahasiswa tentang quotation yg pernah saya sisipkan diantara slide kuliah saya “you are the sum total of your choice that you made in your live”. Ya, hidup memang penuh dengan pilihan dan rangkaian pilihan yg kita ambil itu dapat menentukan jalan hidup kita (tentu saja di atas semua itu Allah SWT yg menentukan).
Sewaktu awal semester 2 kelas 3 SMA (tahun 80an) ada tawaran ke sekolah untuk mendaftar ke beberapa universitas negeri melalui Perintis II, yaitu jalur tanpa tes. Saya dan beberapa teman yg ‘eligible’ dan berminat diminta mengisi formulir pendaftaran. Waktu itu saya bingung antara pilih ITB yg hanya menerima mahasiswa untuk FMIPA melalui jalur tanpa tes ini atau pilih IPB.
Di satu sisi IPB memberikan alternatif pilihan lebih luas karena setelah tingkat 1 mahasiswa boleh memilih diantara semua fakultas/jurusan yg ada. Dengan harapan dapat masuk fakultas kehutanan, rasanya saya ingin membahagiakan ayah saya yg bekerja di bidang kehutanan. Di pihak lain saya ingin juga masuk ITB. Akhirnya setelah melalui berbagai pertimbangan saya putuskan tanpa paksaan dari siapapun untuk memilih IPB dan mengembalikan formulir yg telah saya isi melalui sekolah.
Ayah saya sebenarnya menyerahkan semua keputusan di tangan saya. Tapi rupanya beliau diam-diam mencari info ke sana-sini mengenai alternatif pilihan yg cukup membingungkan saya tsb. Sepulang sekolah saya dipanggil ayah (yg biasa kami panggil dengan nama kecilnya saja yaitu Aa, jauh sebelum panggilan Aa populer apalagi di jawa timur), beberapa teman kantornya menyarankan saya untuk pilih ITB saja. Wah, saya jadi goyah dengan pilihan saya, apalagi teman Aa kebanyakan justru alumni IPB. Itu mungkin karena teman-teman Aa cukup mengenal karakter saya dari pergaulan kami (antar keluarga) sehari-hari yg cukup dekat.
Saya seolah memperoleh ‘justifikasi’ atas keinginan saya yg lain. Setelah yakin dengan keputusan terakhir saya, akhirnya saya pacu sepeda saya ke rumah guru penanggungjawab pendaftaran kami ke Perintis II untuk meminta kembali formulir yg sudah saya serahkan pagi hari. Meskipun agak heran, akhirnya formulir tsb. diserahkan juga oleh guru saya dengan syarat harus saya kembalikan sore/malam hari karena besok pagi harus segera dikirim ke Jakarta.
Akhirnya hanya dengan mengganti satu huruf P menjadi T (dari IPB menjadi ITB) jalan hidup saya berubah menjadi sesuatu yg sama sekali berbeda. Suatu pilihan yg tidak saya sesali sama sekali karena akhirnya saya menemukan (meski dengan bantuan/perantaraaan orang lain) dan memilih bidang yg saya senangi.
[waktu itu cairan korektor tulisan seperti tipp*x belum ada, jadi ketikan di formulir ya harus dihapus menggunakan karet penghapus, untung hanya satu huruf ... ha ha ha jadul banget ya]
Intinya dalam memilih masa depan pertimbangkan seperti memilih pendamping hidup, choose your love and love your choice.
Untung akhirnya P berubah jadi T, kalau tidak, kita akan kehilangan satu blogger, karena Oemar Bakrie mungkin sudah jadi Menteri Pertanian dan tidak sempat nge-blog.
Memang, kalau kita telusuri kebelakang, banyak milestone penting yang menjadi titik-titik penentu jalan hidup kita. Salah satunya ketika kita menentukan pasangan hidup kita. Kalau pilihannya lain….., bayangkan akan berbeda benar jadinya.
Itulah mungkin indahnya hidup yang selalu harus kita syukuri….
Yang penting, pagi ini mau lilih siapa pak? Ha-ha-ha….
Totally agreed!
choose your love and love your choice
itu memang yang saya terapkan di kehidupan saya.. apalagi waktu lulus SMA dan memilih mau masuk mana… saya ambil jalur IPC di SPMB dan pilihan saya mencar-mencar, ya karena saya memilih apa yang saya sukai; Kedokteran UI, Hub. Internasional UI dan FIKTM ITB akhirnya masuk deh di ITB. Teman2 komentar, “pilihan kamu tinggi2 amat!”, saya jawab ” daripada musingin passing grade mending milih apa yang bener2 disuka”. Saya nekat, tapi gak nyesel!
Eeeh, selesai TPB harus milih lagi… dan akhirnya saya menemukan the love of my life… earth science dan geofisika
Sukses trus, Pak!
lho, kok bisa pak anak 2007 baru memilih jurusan? bukannya kalo daftar kampus itu udah milih jurusan sejak awal?
[bingung]
atau itb punya aturan baru?
[...] kecapekan sehabis keliling Mustafa Centre.Iseng-iseng surfing blog, ketemu cerita menarik dari sini, sorry pak hendra ga minta ijin nge link.Jadi tertarik deh curhat [...]
Aha… pilihan memang berat… tapi sekali memilih dengan tanggung jawab insyAllah hasilnya akan kita rasakan setelah beberapa saat kemudian:
sekedar cerita…
ketika saya lulus saya dapat dua tawaran pekerjaan.. satu ke Malaysia dengan posisi ass manager dan gaji nya waktu itu (1996 – sekitar 1jt) dan yang satunya di malang di lembaga pendidikan gajinya cuman 250 rb… saya berpikir… bismillah saya pilih malang … alasannya… ayah saya seorang ABRI selama hidupnya pindah-2 terus… dan saya dan adik-adik dititpkan di Mbah… hanya ibu yang diajak… karena udah pensiun saya pengin deket dengan orang tua…
tapi… baru2 bulan di malang saya… dapat amanah untuk buka cabang di Jogja… wah… orang yang tahu pada bilang saya.. ini bego… sama-sama merantau kok nggak dipilih yang gajinya banyak…
saya tawakal aja…
tidak berapa lama saya segera menjalin kontak dengan temen-teman baru… dan suatu ketika temen-2 membuat SDIT .. dan butuh seorang pengajar AL-quran yang hafidzah.. dan temen-2 saya tahu kalo saya punya adik yang hafidzah,,.. nah seminggu kemudian adik saya sudah di Jogja,….
baru seminggu adik saya di Jogja saya diminta memimpin cabang malang
jadinya saya pindah ke malang
dan sekarang adik saya udah menikah dan jadi orang jogja
saya tetep tiggal di malang dan keinginan saya untuk kumpul dengan ayah terkabul — meski 3 taun kemudian ayah saya meninggal
itu pelajaran berharga bagi saya.
HALah.. kok kepanjangan sih…. maap pak…
@Arry Akhmad Arman: Jangan salah Pak Arry, Menteri Pertanian sekarang nge-blog lho
http://antonapriyantono.com/
Pak Oemar Bakri …
Ini mirip dengan cerita PP II saya pak … (thn 80-an juga )…
Yang jelas saya tidak mengganti “P” dengan “T” …
Saya tetap stay dengan “P” … dengan dasar pemikiran alternatif fakultas / jurusan di IPB relatif agak banyak …
(Terus terang saja … pilihan utama saya waktu itu sih kepinginnya masuk Arsitektur atau Psychologi, lewat PP I)
Namun celakanya test PP I itu waktunya di samakan dengan daftar ulang di IPB … (nggak daftar ulang berarti hangus kesempatan kuliah di IPB …)
Hah … !!! aku nggak mau gambling … dari pada hilang kesempatan yang sudah ditangan … ya aku jalani saja daftar ulang ke IPB
Jadi lah saya seperti sekarang …
Akh… pilihan dalam hidup memang aneh!
Seperti memilih soal jawaban pilihan ganda yang nggak tahu jawabannya… ( jadi pakai ilmu kira-kira apa ya? ) hi hi hi
weleh, ternyata kita dulu hampir sekampus tapi enggak jadi ya? waktu itu saya juga sudah daftar ke IPB, besoknya kakak kelas yang mahasiswa IPB main ke sekolah n cerita2 kalau di bogor itu biaya hidupnya mahal. kalau mau murah, di jogja. sama dengan anda, saya menarik surat pendaftaran yang sudah dikumpulkan ke pak guru, dan membuat surat pendaftaran baru ke UGM karena merasa kasihan pada orangtua yang hidup sangat pas-pasan.
keputusan ini saya buat tanpa memberitahu orangtua (masih ingat kan saya sekolah di trenggalek, sedang ortu di kediri. kebetulan waktu itu dibekali kertas kosong yang telah ditandatangani ortu buat jaga2 kalau ada kesalahan). belakangan perubahan pendaftaran itu disesali ortu yang tahu sejak kecil saya pengin jadi ahli pertanian (harusnya kamu gak usah ikut mikir soal biaya, katanya); juga saya sesali karena saya tidak enjoy di sana tapi memaksakan diri.
sebuah pelajaran penting. sekarang saya selalu tekankan pada anak-anak, kalau ada apa-apa jangan segan2 bicara sama mama-papa, nak…
[...] II pilihannya lebih terbatas lagi yaitu hanya FMIPA yg menerima mahasiswa melalui jalur tanpa test (ceritanya ada di sini). Setelah TPB saya dihadapkan pada pilihan antara Astronomi, Biologi, Farmasi, Fisika, Geofisika [...]
[...] Hidup adalah pilihan (1) [...]