Banyaknya pilihan saluran / acara tv dan seringnya selingan iklan terutama di tv lokal membuat kita sering melakukan zapping alias pindah-pindah saluran tv pakai remote control. Setahu saya di luar negeri (paling tidak di Perancis, kecuali sudah ada perubahan UU) ada aturan maksimum durasi dan berapa kali satu acara boleh diseling iklan. Ini merupakan bagian dari hak dan perlindungan konsumen.
Film misalnya, kalau tidak salah maksimum hanya 2 kali boleh dipotong iklan. Ini memberikan kesempatan penonton untuk jeda sejenak, mengambil kudapan atau ke kamar kecil dsb. Di lain pihak siaran berita yg juga banyak peminatnya justru tidak boleh diseling iklan supaya tidak mengganggu kenikmatan atau konsentrasi pemirsa. [Konon karena sibuk dan sudah capek setelah kerja, di rumah orang-orang sana lebih suka dengar berita dari tv dari pada baca koran, tinggal nongkrong saja, nyaris effortless.]
Di negara kita penyelenggara tv kayaknya boleh seenak udelnya menyisipkan iklan kapanpun dan sebanyak apapun. Uang pengiklan yg punya kuasa, bahkan satu blok siaran bisa dibeli (padahal tarif iklan di tv mahal sekali dan hitungannya per detik). Hampir nggak ada tandingannya, negara liberal saja kayaknya nggak gitu-gitu amat !
Yg menyebalkan adalah pemotongan acara untuk mengiklankan acara mereka sendiri, terutama sinetron yg diulang-ulang terus. Meskipun anak-anak sudah saya larang menonton sinetron tapi tetap saja mereka sering lihat potongan/iklan sinetron sepanjang acara lain yg mereka tonton. Cuma menonton iklannya saja sudah berdampak kurang baik pada anak-anak apalagi kalau menonton sinetron secara penuh dan berkepanjangan. Terbukti mereka kadang nanya maksud kata-kata yg kurang baik yg ternyata mereka dapat dari melihat penggalan sinetron, kacau kan?
Akhirnya meski harus merogoh kocek lebih dalam, saya dan istri setelah berbagai pertimbangan memutuskan untuk berlangganan tv satelit (karena tv kabel yg sekaligus bisa untuk internet belum sampai daerah kami, maklum kami di kampung yg sudah termasuk Bandung coret). Itupun saya pilih paket yg paling murah (yg penting ada Discovery dan National Geo) dan ada diskon lumayan selama 1 tahun pertama.
Memang ada juga teman yg mengingatkan kalau di tv berlanggananpun ada saluran yg menyiarkan sinetron juga. Tapi karena sudah ada alternatif acara lain yg lebih menarik anak-anak tidak mau nengok saluran tv yg tidak mereka sukai. Pada saat ada gangguan tv satelit anak-anak malah nggak nonton tv sama sekali karena mereka tahu tidak ada yg menarik minat di saluran tv yg ada.
Mungkin bisa disimpulkan banyaknya yg gemar menonton sinetron bukan karena sinetronnya bagus tapi cuma karena nggak ada pilihan lain …
Langganan tv kabel/satellit banyak positifnya ketimbang negatifnya, minimal buat anak saya yang jadi tertarik dengan acara2 ilmu pengetahuan di kanal Discovery dan Nat Geo. Cuma ibunya sih masih anteng dengan sinetron
Toni.
Untunglah ada tv kabel, kalau nggak, pulang kerja bisa tambah pusing di rumah. Semua isinya sinetron. Kalau nggak, ya acara reality show yang sudah nggak kreatif lagi karena durasinya kepanjangan dan terlalu dipaksakan (mumpung lagi ngetop).
Tapi, masih ada juga yang menghibur, kok seperti ajang II. Minimal seminggu sekali bisa ada variasi. Kenapa ya, saat prime time kok nggak ada lagi acara berita, kecuali Metro TV? Padahal, kan tidak semua orang suka sinetron.
Salam
Betul pak, lama kelamaan acara TV kita lebih liberal dari negara liberal sekalipun. Materi acara lebih banyak menyebalkan. Tema sinetron cenderung mengumbar syahwat dan adegan kekerasan yang tidak layak ditonton anak-anak. Tayangan berita lebih banyak diwarnai berita kriminal, yang diulas, direkonstruksi, bahkan sengaja ditampilkan berdarah-darah.
Akhirnya saking muaknya dengan tayangan TV yang gitu-gitu aja, saya ambil keputusan ekstrim selamat tinggal TV, STOP TV. Alhamdulillah banyak sisi positifnya berhenti nonton TV; biaya listrik lebih hemat, anak-anak bangun lebih pagi dan belajar lebih serius, komunikasi anggota keluarga jauh lebih baik.
Saya sangat berharap pihak pengelola stasiun TV dapat menghentikan tayangan yang mengandung unsur kekerasan dan seksualitas. Demi anak-anak dan demi kemanusiaan!
saya ada niat mau ngebuang antene tv saja. habis acara tv lbh banyak bututnya, sementara mau langganan tv satelit/kabel blm ada duit. sayang istri gak setuju *keluh*
menarik juga TV langganan dah saya cabut juga antena nya eh anak saya malah nonton di tetangga jadi solusinya kumaha? tolong dong kasih input
Saya juga sering kerepotan menghadapi acara-acara siaran TV ini. Khawatir anak-anak selalu tidak punya waktu untuk belajar. Belum lagi kalau pas saya lagi ke kantor. Yang ada anak-anak selalu dijejali (dididik) oleh siaran acara TV, yang tidak mampu saya kontrol (BO).
Belakangan remotenya saya “bikin rusak” tombol-tombol sy bikin tidak berfungsi he he he…
sehingga hanya 1 saluran TV dan gambarnya pun kaya semut.
Sehingga mereka sendiri yang malas nonton TV akhirnya.
Tetapi sebagai alternatifnya, saya sediakan CD-CD film anak-anak, pendidikan, dsb sekarang kan murah-murah …
Salah enggak ya?
Setuju Pak Oemarbakri …
Sudah saatnya Sinetron Ajaib binti menye-menye itu di stop …
Diganti suguhan yang at least yaaaa … lebih down to earth gituh … (halah Trainer sok tau …)
Hehehe
Sinetron2 jaman sekarang emang udah jarang ada yang bagus, Pak. Malam2 pas waktunya sekeluarga bisa berkumpul buat nonton TV malah dipapetin sinetron nggak jelas. Lihat aja RCTI, dari jam 6 sore ampe sebelas malem bisa sinetrooooonn terus. Udah gila apa ya?
Kalo saya di rumah langganan First Media, Pak. Lumayan udah sama internet. Trus di rumah jd bisa nonton ESPN, National Geography, Discovery Channel, CNN, HBO dsb. Di Bandung kayaknya belum ada ya, sayangnya. Saya sudah penat menonton sinetron2 nggak penting di kosan, jd sudah beberapa bulan ini nggak pernah nonton TV lagi. Hehehe..
Salam
masih mending nonton kartun atau acara musik tuh.
Satu kata buat sinetron Indonesia : Cape dweh
[...] Mei 2008 oleh Oemar Bakrie Awalnya saya mau menjawab komentar teman-teman atas tulisan saya sebelumnya soal acara tv. Tapi karena terlalu panjang maka jadilah satu tulisan [...]
wah sepertinya bener pak, banyak yang nonton sinetron karena memang tak ada pilihan lain, yasudah pasrah adanya cuma itu
*terpaksalah nonton metrotv cuma sabtu & minggu saja
sinetron Indonesia emang kayak nya bakal sulit berkembang. Kayak gitu-kayak gitu aja si.
Dulu inget banget pas masih ada Si Doel yang masih awal-awal. Luar biasa….sinetron-sinetron sekarang kudu yg kayak gitu kali yah…tapi kata nya, sinteron yang sekarang itu yang ngikutin kemauan pasar komsumen dan penikmat TV saat ini..lha itu gimana coba???.
MENGGUGAT PUTUSAN SESAT HAKIM BEJAT
Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap di Polda Jateng.
Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak ‘bodoh’, lalu seenaknya membodohi
dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung di bawah ‘dokumen dan rahasia negara’.
Statemen “Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap” (KAI) dan “Ratusan rekening liar terbanyak dimiliki oknum-oknum MA” (KPK); adalah bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah terlampau sesat dan bejat. Dan nekatnya hakim bejat ini menyesatkan masyarakat konsumen
Indonesia ini tentu berasarkan asumsi bahwa masyarakat akan “trimo” terhadap putusan tersebut.
Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Masyarakat konsumen yang sangat dirugikan
mestinya berhak mengajukan “Perlawanan Pihak Ketiga” dan menelanjangi kebusukan peradilan ini.
Siapa yang akan mulai??
David
HP. (0274)9345675