Dalam beberapa tulisan saya sebelumnya, disebut-sebut sepeda kumbang yg memang berhubungan erat dengan Oemar Bakrie. Bagi saya dan istri, sepeda kumbang hanya istilah, yg bisa berkonotasi alat transportasi (dalam hal ini mobil) yg sehari-hari membantu mengantar saya bekerja dan beraktivitas. Namun karena sama-sama berfungsi sebagai fasilitas kerja, maka istilah tsb. juga bisa berasosiasi dengan PC dan/atau notebook saya.
Bagi Oemar Bakrie, sepeda kumbang perlu terus dipelihara agar bisa terus ‘digenjot’ (bahkan kadang harus kenceng). Karena belum bisa meng-upgrade sepeda kumbang (mobil) maka sementara ini yg di-upgrade adalah sepeda kumbang satu lagi (komputer) hi hi hi … Hal ini karena kebutuhan pengolahan data geofisika dari survey lapangan yg makin banyak dan perlu cepat.
Maka mulai beberapa waktu yg lalu saya mulai menggunakan komputer dengan prosesor Intel Core 2 Quad 2.4 GHz dengan memori 2 GB. Komponen lain saya kira masih cukup pakai yg standar saja. Sayangnya saya merasa kok penambahan ‘kenceng’-nya nggak seperti saya bayangkan sebelumnya. Memang saya nggak mengukur performa-nya pakai software khusus, cuma pakai feeling saja …
Karena bukan untuk riset yg umumnya harus membuat program sendiri, saat ini saya lebih banyak menggunakan software komersial yg sudah ada. Nah, saat menjalankan software menggunakan komputer lama, saya cek CPU usage di task manager biasanya hampir mentok di 100%. Lalu kalau pakai notebook yg sudah Core 2 Duo jadi sekitar 50% dan sekarang pakai Core 2 Quad sekitar 25%.
Pertanyaan saya begini :
- Logika saya yg awam soal daleman komputer menyimpulkan kelihatannya proses hanya bekerja di salah satu core / processor saja. Bener nggak sih ?
- Kalau sinyalamen saya di atas bener, pertanyaan selanjutnya adalah: jangan-jangan software saya bisa lebih cepat di komputer lama saya yg frekuensi prosesor-nya 3.4 GHz ?
- Memang software yg saya gunakan jelas tidak di-optimize untuk bisa memanfaatkan keberadaan lebih satu core / processor. Nah, ada nggak ya cara atau yg bisa mengatasi hal itu ? (terutama jika jawaban pertanyaan nomor 2 adalah ya).
Ada yg bisa memberi pencerahan ? Terima kasih sebelumnya.

single core, dual core, quad core dan seterusnya itu baru terasa bedanya jika kita melakukan multitasking, pak..
sebagai contoh, saya merancang layout pabrik menggunakan autocad kemudian dibikin animasinya dengan 3dsmax..
benar-benar terasa bedanya kok antara pentium dengan core2duo..
1.pastikan sistem operasi yng digunakan multicore aware
contohnya disalah satu pc saya:
——————————
FreeBSD/SMP: Multiprocessor System Detected: 4 CPUs
cpu0 (BSP): APIC ID: 0
cpu1 (AP): APIC ID: 1
cpu2 (AP): APIC ID: 6
cpu3 (AP): APIC ID: 7
——————————-
setelah memastikan sistem operasi yng dipakai sudah multicore aware, masuk ke langkah ke-2;
2.pastikan software yng digunakan multicore aware.
contohnya matlab mulai versi R2007b sudah multicore aware.
(bisa dicek dibagian preference, enable multithreaded computation)
demikian pendapat dari saya.
wassalam,
wah saya juga blum tau banyak ttg ginian pak..
tapi melihat program2 di gf gede2. musti punya komputer dengan spec yg bagus ya pak..
di tg juga gitu ya katanya.. ada software yg ampe 8 gigaan u_u katanya..
dari segi sistem operasi:
Windows XP sejak service pack 2 sudah mendukung multicore (baik XP versi 32 bit maupun XP versi 64 bit).
but for better flexibility: disarankan menggunakan Windows XP 64bit service pack 2 atau migrasi ke Vista 64 bit service pack 1.
1.http://www.microsoft.com/windows/products/windowsvista/editions/64bit.mspx
2.http://www.microsoft.com/windowsxp/64bit/overview.mspx
3.http://www.microsoft.com/windowsxp/64bit/facts/benefit.mspx
wassalam,
saya tersanjung bapak ngasi komen ke blog saya…hehehe..
iya, pak…kalau ada yang kami bisa bantu, kami siap koq pak…!
saya harus pulang ke medan soalnya, pak….
sudah setahun tidak bertemu orang tua…
Pak, itu kayaknya foto bukan di kantor ya Pak ? … maaf komennya OOT.
Eh, maksud saya bukan di kampus … ?
Aku nyerah kalo yang beginian ..
Yang jelas … kalo liat fotonya …
hahaha … ini mirip tempat “ESCAPISM” saya pak …
‘gudang studio tempat bertapa saya …’
(eh pak Oemar sempet baca postingan saya yang itu nggak ya …) (promosiiiii … promosiiiii)
Jawaban untuk (1) dan (2):
Tergantung programnya Pak. Level multi-processing (paralelism) itu tergantung tipe algoritma dan data yang harus diproses.
Kl data dan algoritmanya banyak bergantung pada proses sebelumnya, tingkat multi-processingnya sangat rendah (karena prosesnya tidak bisa diparalelkan). Karena itu, core-duo atau quad tidak banyak membantu.
Kl datanya berulang dan tidak bergantung pada proses sebelumnya, tingkat paralelismnya tinggi. Proses semacam inilah yang bisa mengambil keuntungan dari core-duo / quad.
Akhir kata, semuanya tergantung dari si pemrogram. Pas dia bikin program itu, dia aware ga kl beberapa bagian dari program itu bisa diparalelkan ?
Jawaban untuk no (3):
Cari source codenya Pak, lalu profiling codenya. Bagian-bagian yang makan banyak waktu harus dibedah. Bisa ga dioptimasi untuk speed tanpa mengurangi robustnessnya ?
—-> Karena itulah, saya suka open source…Hehehe…
@Daniel (a.k.a. Kunil)
Terima kasih pencerahannya. Untuk hal-hal yg agak rutin saya mengandalkan paket software sehingga memang terbatas eksplorasi-nya. Ingin sebenernya bereksperimen dengan komputasi paralel untuk pemodelan inversi data geofisika menggunakan algoritma genetik misalnya, tapi belum sempat juga kalau semuanya harus dilakukan sendiri.
-Salam-
Saya disini bukan mau komentar ttg CPU yang bapak gunain, tetapi mau nanya tentang yang ada di gambar. saya tertarik dengan software yang di monitor kiri, itu software apa ya pak??
regard
Satu inti prosesor sudah tidak mungkin bisa cepat lagi karena jumlah transistor sudah terlalu banyak dan berpotensi panas berlebih (system down). Solusinya lahir dual-quad core.
Quad core sudah menyalahi hukum moire. Dan emang bisa optimal ketika menjalankan multitasking, atau menjalankan software lain yang sudah dioptimalisasikan untuk prosesor multitasking.
Windows 64bit not recommended coz program2 (yg dioptimalisasikan buat arsitektur 64bit) lain mungkin masih jarang di pasaran, begitu pula dengan bajakannya.
Mendingan disambi sama yg lain2 (sambil ngerender di premiere, nge-rip dvd juga, n ngotak-atik pro-tools).
Iya pak, yang kanan Res2Dinv.
Oh ya pak, barusan pak aang bilang ke saya, bahwa bapak nyariin saya beberapa hari ini.. Maaf sebelumnya pak, sejak selesai UAS, saya lebih banyak di PUSAIR untuk menyelesaikan pengolahan data resistivity pasuruan kemaren, alhamdulillah tadi udah selesai dan udah dipresentasikan disana..