Kayaknya tulisan ini masih menyambung dengan tulisan sebelumnya.
Waktu awal kuliah Kapita Selekta tentang Ocean Engineering di tahun terakhir S1 saya, dosen bertanya kepada mahasiswa, “mengapa angin topan (siklon tropis) selalu diberi nama wanita ?”. Tidak ada satu-pun dari kami yg bisa menjawab. Lalu dengan kalem sang dosen menjawab pertanyaannya sendiri, “karena angin topan susah ditebak atau diramalkan seperti wanita …” Kami sekelas ketawa, ternyata sang dosen sedang ngebanyol, kirain sedang nge-test, ha ha ha …
[Sampai dengan akhir tahun 70-an memang angin topan (siklon tropis) selalu diberi nama wanita, dengan huruf awal sesuai abjad dan urutan kemunculannya di tahun ybs. Konon ada protes dari gerakan feminisme sehingga kemudian nama pria juga digunakan secara berselang-seling.]
Huahaha …
Iya ya kenapa kok dinamakan seperti itu …
Soalnya ndak enak mendengar pembaca berita berkata seperti ini ….”telah terjadi serbuan angin topan “Sastro” di samudra bla-bla-bla ….”
(ndak enak kan ???)
Sekarangpun nama angin topan cantik-cantik….cuma jangan dipakai untuk memberi nama anak….
Kayaknya ada juga nama laki-laki untuk topan, tapi topannya tidak seganas Katrina. Mungkin karena kalau gak ada angin lembut membelai pasti dunia gerah..tapi kalau marah ya juga bikin “gerah” alias sakit…
Udah ada belum ya nama topan yang memakai nama berbau Arab. Kan lucu juga saat kita mendengar berita,”Topan “Maimunah” telah menewaskan 10.000 penduduk Bangalore”.
Salam kenal lagi pak. Klo kata saya sih lebih karena analogi energi potensialnya. Seperti udara wanita itu sangat penting untuk kehidupan, seperti angin wanita bisa memberi energi, dan … seperti topan karena punya resiko tinggi dengan daya rusaknya.
Dan ini yang mungkin membuat para feminis lebih marah: “Energi nuklir dipergunakan dengan sangat hati-hati, tembok PLTN jauh lebih tebal dari PLTD, biaya perawatannya sistemnya relatif tinggi (safety pov), dan dijaga ketat, gak bebas dan gak boleh sembarangan. Sebab energi nuklir dan hampir ’semua penghasil energi besar lainnya’ punya potensi merusak yang dahsyat bila tidak dikendalikan.” IMHO.
satu perkecualian, dulu ada satu topan yang pake nama laki-laki Arab, yaitu “Ali”. Topan yang ini suka main di jalanan Jakarta… terkenal banget pokoknya …
meskipun semuanya wanita, bosnya tetep laki-laki: “TOPAN”, jawa lagi…
lah skarang jadi bingung, knapa dikasi nama ‘Topan’? atau ‘Taufan’ kalo mau agak sopan.