Hari-hari ini mahasiswa ITB yg telah menyelesaikan tingkat pertama bersama (TPB) telah menerima hasil penjurusan mereka. Sekedar informasi, mulai tahun lalu ITB menerima mahasiswa berdasarkan pilihan fakultas mereka yg berlaku untuk semua fakultas. Baru setelah TPB mereka memilih program studi dalam lingkup fakultas masing-masing.
Bagi mahasiswa yg berprestasi sangat bagus tentu tidak susah mendapatkan program studi yg mereka inginkan. Bagi yg lain, strategi pemilihan (urutan pilihan) juga ikut menentukan selain prestasi akademik selama di TPB. Tentu saja ada juga yg kecewa. Apalagi bagi mahasiswa dan orang tua mereka yg merasa sudah mengeluarkan biaya yg tidak sedikit ketika mendaftar dan diterima melalui jalur USM. Mungkin mereka sudah terbiasa selalu bisa memperoleh apa yg mereka inginkan.
Padahal setahu saya sistem penjurusan seperti yg diterapkan ITB sudah cukup jelas disampaikan ke calon mahasiswa. Demikian pula di TPB mahasiswa menerima penjelasan yg cukup komprehensif mengenai program studi yg ada di fakultas masing-masing yg bisa mereka pilih. Harapannya adalah mahasiswa memiliki wawasan yg lebih terbuka terhadap alternatif, meskipun informasi tentang berbagai bidang studi seperti itu sebenarnya sudah banyak dan bisa diakses, salah satunya melalui internet.
Seingat saya, sistem penjurusan seperti ini pernah diterapkan ITB di tahun 70-80an. Saya sendiri karena masuk ITB melalui Perintis II pilihannya lebih terbatas lagi yaitu hanya FMIPA yg menerima mahasiswa melalui jalur tanpa test (ceritanya ada di sini). Setelah TPB saya dihadapkan pada pilihan antara Astronomi, Biologi, Farmasi, Fisika, Geofisika & Meteorologi, Matematika, Kimia.
Pertimbangan saya tidak terlalu “njlimet”. Astronomi, Biologi, Farmasi dan Kimia tidak masuk dalam alternatif pilihan saya karena saya merasa tidak punya bakat di bidang-bidang itu. Matematika mungkin terlalu “murni” buat saya meskipun setahu saya banyak juga aspek terapan-nya. Sebenarnya saya cukup berminat dengan Fisika, tapi saya merasa tidak akan mampu untuk aspek yg teralu teoritis seperti Fisika Modern dan Fisika Inti. Saya ingin yg lebih aplikatif dan nantinya bisa menjalani profesi yg memberi peluang untuk aktivitas “outdoor” dan cukup variatif. Akhirnya pilihan pertama saya jatuh pada Geofisika & Meteorologi.
Beberapa teman terutama yg masuk melalui Perintis II ada juga yg kecewa dengan hasil penjurusan. Kemudian mereka ikut test lagi, tentu dengan mengorbankan tahun pertama di ITB. Hampir semua yg ikut test lagi diterima di jurusan yg lebih mereka senangi seperti kedokteran, pertanian, peternakan, elektro, arsitektur, dll. tapi yg jelas bukan di ITB. Ada aturan ITB bahwa yg boleh mendaftar ke ITB tidak pernah tercatat sebagai mahasiswa ITB sebelumnya. Secara bercanda kami menyebut tingkat pertama di ITB merupakan bimbingan test yg cukup ampuh namun sangat murah (waktu itu) dibanding bimbingan test lainnya.
Saya sendiri cukup puas dengan pilihan saya, banyak teman lain saya pikir juga demikian. Dengan semangat dan antusiasme kami menjalani kuliah di tingkat 2 dan tingkat selanjutnya di jurusan masing-masing. Sebagian lain juga kelihatannya cukup “nrimo” dengan mengambil hikmah “apapun jurusannya yg penting kuliah di ITB” (padahal waktu itu belum ada teh Sosro, apalagi iklannya … he he he).
Saya bahkan sangat “betah”, terbukti setelah lulus-pun saya “ngendon” terus di sini bahkan sampai sekarang. Berdasarkan pengalaman teman-teman seangkatan yg sudah malang-melintang di dunia kerja selama 20 tahun dan pengalaman saya di dunia pendidikan, saya pikir S1 sebenarnya lebih bersifat memberikan fondasi/dasar yg bersifat agak generik. Hasil pendidikan S1 membuka peluang alumninya untuk berkembang lebih lanjut sesuai dengan potensi mereka masing-masing.
Nah, bagi mahasiswa baik ITB maupun universitas lain yg tidak mendapatkan jurusan / bidang studi yg anda inginkan cobalah untuk tetap berpikir positif dan berpandangan luas dengan menjalani apa yg sudah di tangan anda. Berbuat yg terbaik dan berprestasi maksimal merupakan kunci masa depan. Hard-skills yg berhubungan dengan hal-hal teknis penting untuk dipelajari namun tidak kalah penting adalah soft-skills yg antara lain menyangkut kemampuan komunikasi dan berinteraksi dengan orang lain juga tidak kalah penting untuk dikembangkan.
Kalau kondisinya sudah sangat ekstrem, tidak sesuai dengan hati nurani atau hal-hal prinsip yg mendasar lainnya, mungkin perlu dipertimbangkan untuk pindah haluan. Ikut test lagi atau alternatif lainnya. Asal justifikasinya tidak dicari-cari. Konsekuensi kehilangan waktu dan biaya juga perlu diperhitungkan.
Bagi yg ingin berbagi pengalaman, silakan memberikan komentar dan/atau memberikan link-nya. Mudah-mudahan bermanfaat.
Saya setuju hidup adalah pilihan.
Untuk hidup kita memang harus memilih.
Pilih yang terbaik untuk hidup kita.
Dan yang lebih penting ‘hidupkan’ pilihan kita.
Hmm ..
Ini mirip dengan tulisan “hidup adalah pilihan yang pertama” ya Pak …
(ini pengalaman pribadiku juga … somehow .. someway …)
Salam ku pak
Yup! Jadi ingat cerita waktu Bapak mau kuliah dulu, memilih jurusan dan universitas yang benar-benar sesuai hati nurani kita.
Eh… kayak mau PEMILU aja ya?
alhamdulillah..saya engga mrasa salah jurusan atau peminatan… sblm memilih program jurusan yg saya ambil (komunikasi media), saya salah istikharah dulu.. krn saya juga tertarik di projur : jurnalistik…
eniwei, bapak benar.. life is a choice~
Termasuk pilihan saya untuk melepas pekerjaan saya untuk menjadi fulltime blogger adalah pilihan yang cukup sulit untuk diputuskan, walau akhirnya saya lebih memilih untuk jadi full problogger
Sekalian nich mohon dukungan backlinknya, saat ini saya sedang berjuang di Busby SEO Challenge international contest. Berharap bisa mengharumkan nama bangsa Indonesia di Tingkat dunia.
dulu waktu masuk elektro ITB, saya juga merasa “saljur” alias salah jurusan
niat dari kecil masuk kedokteran eh malah nyangkut di elektro ITB. Dana gak cukup, masa mau maksa kuliah kedokteran. tp memang semuanya sudah diatur indah pada waktuNya. 5 tahun di elektro itb, lolos juga akhirnya…jadi buat yang merasa salah jurusan seperti saya dulu, ya nikmati saja toh? jangan terlalu dipikirkan, ke depannya pasti ada rencana Tuhan yang gak pernah kita sangka-sangka sebelumnya.
Kalau saya sudah amat sangat bersyukur diterima di ITB pak meskipun bukan di pilihan pertama. Untungnya waktu menentukan pilihan kedua saya timbang2 betul sehingga begitu terjuruskan ke pilihan itu saya tidak ragu2 lagi, ini-lah yg sudah digariskan Allah untuk saya …
waktu saya nyadar, kalo saya ga bakal masuk di jurusan yang paling saya minati di TPB ITB, saya sempat mikir mau pindah universitas aja (apalagi sbnrnya saya masi ada jatah kuliah di salah satu universitas swasta, dengan jurusan yang saya minati). Tapi saya juga mikir, sayang banget mengorbankan 1tahun yang melelahkan itu. Sekarang saya sudah mau tingkat 3, dan tidak menyesali apapun
Untuk semua, keputusan bijak yg dilandasi pemikiran matang, info yg memadai, permohonan petunjuk dari Allah SWT (melalui sholat istikharah) tentu akan menuntun kita kepada jalan yg ditunjukkan-Nya.
Saya dulu milih FIKTM ITB memang sudah berniat masuk Teknik Geofisika, tapi jujur itu bukan benar2 pilihan saya, melainkan saran dari pihak keluarga. Tapi ternyata, saya beneran jatuh cinta sama jurusan saya ini… Jadi tak ada penyesalan sedikitpun ^^
Hidup memang sebuah pilihan
Jika kita salah memilih maka penyesalanlah akhirnya
hemph..hidup itu memang pilihan pak, tapi entah dipilihkan atau memilih sendiri..hehehe
yah beruntunglah bagi yang tepat berada di bidangnya..dengan memilih sendiri atau dipilihkan..
kalau tidak…bagaimana pak
*curhat mode ON*
^^
Komentar anda dobel jadi saya hapus satu.
Jawaban saya atas pertanyaan anda sebenarnya sudah ada di tulisan saya di atas. Tapi mungkin saja lebih mudah mengatakannya namun sangat sulit menjalaninya … Apapun kondisinya, semangat dan optimis terus untuk menjalani yg sudah di tangan kiranya bisa mengatasi banyak hal. Semoga sukses !
[...] Hidup adalah pilihan (2) [...]
HIDUP ADALAH PILIHAN
DAN SETIAP PILIHAN ITU PASTI ADA RESIKONYA.