Konon hobi bisa menjadi sarana pelepas stress. Salah satu hobi saya yg jelas tidak ‘canggih’ adalah “ngoprek” (apa ya bahasa Indonesia-nya yg baik dan benar ?) Mungkin ini dimulai ketika saya masih SMP di Surabaya. Waktu itu merangkai rangkaian elektronik sederhana sedang mulai ‘nge-trend’ di kalangan anak-anak tanggung seperti saya dan beberapa teman.
Saya dan teman-teman belajar otodidak dari buku karena hal itu bahkan belum jadi bagian dari ekstra-kurikuler sekolah. Modalnya cuma hasil penghematan uang jajan yg tidak seberapa. Untuk memperoleh dana tambahan yg agak lebih besar perlu ekstra keras “merayu” ayah saya, dengan berdalih dari pada keluyuran nggak karuan (padahal saya memang nggak suka keluyuran) …
Beberapa kios yg menjual komponen elektronik di Pasar Wonokromo (yg relatif dekat dengan rumah) dan Pasar Turi (yg relatif dekat dengan sekolah) jadi daerah jelajah keluyuran saya.
Waktu itu rangkaian yg sudah jadi dalam bentuk PCB (printed circuit board) terlalu mewah untuk ukuran kantong anak SMP. Bahkan mungkin belum ada atau belum banyak. Komponen elektronik cuma saya susun di atas papan triplek yg dilubangi dan dihubungkan dengan jalur kawat tembaga, lalu disolder. Sebelum punya solder listrik, saya malah cuma pakai solder biasa yg dipanasi di atas lampu minyak (bahasa Jawa-nya lampu teplok).
Kesibukan ngoprek itulah yg membuat saya jarang berada di luar rumah sepulang sekolah. Tapi saya tidak merasa kurang gaul .. he he he. Anehnya saya tidak terlalu tertarik untuk membuat ‘mainan’ elektronik yg menurut saya kurang berguna (kecuali untuk latihan tentunya) seperti lampu kedip (flip-flop) dll.
Karena radio transistor satu-satunya di rumah rusak maka merangkai radio adalah obsesi saya waktu itu. Ketika berhasil senangnya bukan main ! Saya pamerkan ke ayah, ibu dan saudara lain. Saya tidak ingat berapa jenis rangkaian elektronik lain yg sudah berhasil saya buat, selain radio sederhana dengan beberapa transistor itu.
Oh iya, saya juga membuat pengeras suara yg pada dasarnya hanya bagian dari rangkaian radio. Input-nya speaker kecil sebagai pengganti mikropon dan output-nya speaker kecil juga yg dihubungkan dengan kabel agak panjang ke tempat yg agak jauh. Saya buat sepasang sehingga bisa digunakan untuk komunikasi dua-arah antar kamar (nggak terpikir bahwa sebenarnya cukup satu saja dan digunakan untuk bicara bergantian seperti interkom).
Berdasarkan pengalaman itu, waktu SMA saya punya ide untuk memanfaatkan radio menjadi interkom dengan hanya menambahkan saklar geser/tekan. Saya kirim ide itu ke majalah ELEKTRON yg diterbitkan oleh Himpunan Mahasiswa Elektro ITB. Diterima ! dan dimuat di bagian tips-trik sederhana sumbangan pembaca. Kalau nggak salah honornya dua ribu lima ratus rupiah, lumayan …
Hobi ngoprek ini masih berlanjut sampai sekarang, tapi masih tetap untuk urusan yg simpel-simpel saja. Meskipun kadang justru memerlukan biaya yg lebih besar (karena eksperimen gagal) dan waktu yg lama (berlarut-larut nggak selesai karena keterbatasan waktu).
Saya dulu malah enggak ada kesempatan ngoprek Pak … Jadinya sampai sekarang enggak begitu hobby-hobby banget, kecuali kalau memang bener-bener ada kebutuhan aja.
Wah ternyata Bapak “opreker” juga ya. Bagi para opreker (ngutak-ngatik ektronika) pasti tahu JP dan Cikapundung, Bapak masih suka ke sana?
Dulu saya suka ngoprek, ada kepuasan tersendiri ketika hasil oprekan itu bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya, tapi tidak jarang hasil oprekan menemui jalan buntu, dan meninggalkan sampah elektronik yang sayang untuk dibuang.
HHmmm …
hobi ngoprek yang bermanfaat ya pak …
Rp.2500 … aaahhh itu pasti jumlah uang yang sangat berarti bagi bapak …
Bukan secara finansial … namun secara spiritual …
Tambah PD ngoprek gituh maksude …
(hehehe)
Apa Kabar Pak …?
Saya juga pernah Pak… waktu smp bongkar tape dg maksud memperbaikinya, abis itu gak bisa berfungsi lagi hi…hi…hi…hi….
Jaman itu saya melakukan hal yang sama, tapi sejak mengenal komputer saya jatuh cinta dengan ngoprek software. Mengapa? Ngoprek hardware terlalu lama menunggu sampai hasilnya terlihat.
Untuk yang hobby ngoprek elektronik, sekarang telah terjadi pergeseran pak! Ada dua pendekatan: (1) pake platform mikrokontroler, tinggal buat program, lalu upload ke mikrokontroler, jadilah flip-flop, alarm, atau bahkan suara burung yang semuanya dikontrol mikroprosesor; (2) pake platform FPGA, yaitu interkoneksi chip didalamnya yang kita program. Ini lebih menyerupai yang bapak lakukan dulu, tapi tanpa nyolder.
Mimpi saya, kita mrogram di komputer, lalu ada alat portabel yang dikasih bahan baku silicon, sim salabim, pluk, keluar langsung jadi chip yang kita inginkan! Ha3x
Masih tertarik ngoprek? Bisa coba daftar praktikum di elektro. Ha-ha-ha!
Aku hobinya jalan-jalan….hihihi…ngak nyambung…
wah harusnya Anda nyangkutnya di LabTek VIII ITB Pak
(eh elektro LabTek VIII kan?
)
Salam kenal
Wah dikeluarga, sy juga dikenal sebagai orang yg suka ngoprek, speaker2 dirumah kadang sy utak atik tapi lebih sering merusak sih wakakakakaka
Post terbarunya Trisna === Turn your photo into a sketch
wah kalau saja ada akihabara di dekat rumah bapak….
mungkin satu rocket/peluru kendali dll sudah dibuat tuh.
“Meskipun kadang justru memerlukan biaya yg lebih besar (karena eksperimen gagal) dan waktu yg lama (berlarut-larut nggak selesai karena keterbatasan waktu)”
hahahaha betul.. betul.. yang penting asiknya (creative excitement). Selama saya bujangan saya nggak punya tabungan, duit habis buat ngoprek2
. Sekarang ngoprek hanya kalau memang hasilnya lebih murah (dan tidak makan waktu banyak) daripada beli jadi.
@ AA Arman
Yang begituan sudah ada lama kok pak. Di fpga ada SOPC builder. Intinya yah programming-programing c saja. Sedikit verilog/VHDL-nya. Hasilnya yah chip (FPGA). Kalau di altera, prosessor yang dipakai NIOS. Cuman kalau orang ASIC (Pak Trio cs) tidak pakai SOPC-NIOS ini karena tidak bisa dilayout atau harus bayar licence dengan sangat mahal. Untuk yang mau diimplementasi di ASIC pakainya LEON.
Gpp sich kalo punya hobi ngoprek……. yang penting terima bongkar harus terima pasang….. Jangan seperti saya, terima bongkar tapi tidak terima pasang, kekekekeke…..
ngoprek itu bukan yang hobi nyontek khan pak ? walah malah salah dan tambah nda nyambung ya
sama pak saya juga hobinya ngoprek,
bedanya kalo bapak kan ngoprek nya bongkar, betulin terus pasang,
kalo saya bongkar, trus gak betul-betul, trus kabur………hihihihi
uwakakak!………….(dibaca ketawa ngakak), kebongkar semua deh kartu masing-masing, lanjutin bos!! itung2 latihan…(”kalau gagal”)
Ngoprek peralatan elektronik memang benar-benar mengasyikkan, euy!
Viva opreker Indonesia!
@Mulyanto, yang saya mimpikan benar-benar barang portabel yang ajaib, inputnya adalah bubuk silicon (ya… bayangkan mirip gula pasir gitu….), masukan ke alat ajaib tersebut, tiba-tiba, pluk, jadi chip yang kita inginkan!
Kalo yang sekarang ada sih masih memprogram interkoneksi di dalam chip, inputnya chip, jadinya chip juga. He3x, mimpinya terlalu jauh…..
hati-hati kalo ngoprek Mas, ‘ntar keterusan bisa terjerumus … kaya saya
he… he….. terpaksa sekarang dibalik, elektronika profesi, sains jadi hobi.
Wah..saya baru tau kl pasar Wonokromo dan pasar Turi ada toko elektroniknya (yang jual kit elektronika). Setahu saya si, kl mo cari komponen di Surabaya harus ke pasar Genteng (Glodoknya Surabaya).
Mungkin pas tahun-tahun sebelum pasarnya kebakaran kali ya ? Sekarang si pasar Wonokromo dah jadi Darmo Trade Centre..Pasar Turi masih tersisa, tapi kebanyakan jualan baju, kain, dan seragam sekolah (bersaing dengan Pasar Atom)..
Hmm..jadi rindu rumah =P
he he he Ngoprek itu, kira – kira istilah Madiun nya, nguthik(uthik saja), lha nggak jauh juga dengan istilah nguthek (uthek saja). Disini ada dua macaem; nguthek barang jadi, kemudian malah bubrah (terima bongkar gak terima pasang), lha bapak yang tergolong ideal; kretaif dan kostruktif. Jarang orang berhobi begini, apalagi tuntutan orang jaman sekarang; yang instan2 saja.
bagus
kalau saya sdg ngoprek alat rekam ctcv pakai alat sderhana lagi
salam kenal semua
and kalau bisa tkrn infonya ..
nie alamat emailnya aku stealthare@yahoo.com
Yap!!! Jadi inget waktu sekolah…. Dulu klo lagi ngoprek barang elektonik bisa sampe tengah malem…. lupa ma ngantuk
pak boleh saya minta rangkaian sederhananya ?
saya juga mau belajar untuk membuat interkom yang bapak jelaskan
kebetulan saya sekarang lg membongkar radio..namun saya sedikit bingung dengan komponen di dalamnya.
-> danny
Sebenarnya tidak ada komponen/rangkaian elektronik sama sekali, ini hanya sekedar ide pemanfaatan radio. Cuma pakai saklar geser yg bisa “menukar” posisi input (2 kutub) dengan 2 output (2 kutub).
Intinya di radio kita bisa menggunakan 2 kutub yg ada di potentiometer volume (biasanya 2 yg paling pinggir) sebagai input pengeras suara dan outputnya ya di speaker radio itu. Nah, sebagai input (mikropon) kita pakai speaker tambahan, lalu posisi input-output ditukar-tukar menggunakan saklar tadi sehingga bisa digunakan berbicara secara bergantian. Posisi speaker tambahan bisa ditempatkan di tempat yg jauh (kabel panjang) tapi kendali komunikasi ya di tempat yg ada radio-nya.
Mudah-mudahan bisa dipahami dan selamat mencoba.