Beberapa waktu yg lalu mahasiswa ITB angkatan 2007 yg telah satu tahun di TPB sudah menerima keputusan penjurusan mereka. Saat inipun mahasiswa baru angkatan 2008 sudah mengikuti masa orientasi dan tinggal menunggu saat penerimaan resmi minggu ini dan akan mulai kuliah semester I 2008/2009 minggu depan.
Mahasiswa baru telah diterima sesuai pilihan mereka meskipun masih di tingkat Fakultas di ITB. Satu tahun lagi mereka harus memilih program studi dalam lingkup fakultas masing-masing. Program studi dalam satu fakultas sudah diatur sedemikian hingga cukup homogen, jadi kalau ada yg terjuruskan bukan pada pilihan utama / pertama, mereka masih berada pada bidang ilmu yang kurang lebih serumpun.
Beberapa waktu yg lalu ada SMS dari mahasiswa yg baru saja diterima di Teknik Geofisika, dia bilang kalau mau pindah jurusan dan menanyakan apa hal itu mungkin/boleh. Serta merta saya langsung bilang, ya boleh !! persyaratan dan mekanismenya ada di buku peraturan ITB yg seharusnya telah dimiliki dan dibaca oleh setiap mahasiswa. Orang mungkin akan bertanya-tanya, lho kok seperti itu? Bukannya harus ditanya dulu kenapa-kenapanya, dijelaskan dulu begini-begitunya dsb.
Saya merasa pada berbagai kesempatan mekanisme itu sudah dijalankan sebagaimana mestinya, seperti saat penerimaan mahasiswa baru, penjelasan kepada orang tua mahasiswa baru, kuliah TPB yg memperkenalkan semua program studi dalam satu fakultas yg nantinya harus mereka pilih, perwalian dll. Jadi keputusan akhir tetap di tangan yg bersangkutan. You are the master of your choice.
Dulu waktu pemilihan jurusan dilakukan saat pendaftaran UMPTN/SPMB, saya juga sering menghadapi mahasiswa yg merasa diterima/masuk di jurusan yg salah. Lalu siapa yg menuliskan kode pilihan jurusan di formulir pendaftaran mereka ? Salah atau kurang informasi ? Pada jaman dimana informasi bisa diakses siapa saja, kapan saja, dimana saja rasanya kok aneh kalau masih ada saja yg merasa kurang informasi.
Memang pilihan dalam menentukan jalan hidup dan masa depan seseorang merupakan hal yg penting. Tapi saya termasuk orang yg beranggapan bahwa kita sebenarnya amat sangat “fleksibel” dalam menyikapi dan menjalani pilihan-pilihan hidup. Asal tidak sangat ekstrim situasinya, kita masih bisa menyiasati dan menjalani semua yg sudah kita terima dengan penuh kesungguhan dan antusiasme.
Saya juga punya koleksi kisah-kisah orang sukses di berbagai bidang yg jelas-jelas sangat berbeda dengan bidang studi S1 mereka. Saya gunakan itu untuk menginspirasi dan menyemangati mahasiswa.
Masih banyak orang yg “keleleran” nggak kebagian sekolah, rasanya amat sangat tidak bersyukur kalau sudah diterima di ITB (atau di tempat lain) kok masih saja merasa salah jurusan dll. So, stop acting like a crying baby, carpe diem, not just seize the day but seize the opportunity !
Tulisan yg berkaitan:
pa
koq judul blog entry kita sama
http://pbasari.wordpress.com/2008/08/11/life-is-a-matter-of-choice/
tapi isinya jauuuhh beda.. hehehehehe
Betul sekali Pak Hendra…
banyak yang susah kuliah… kok malah ada yang tidak dapat mensyukuri apa yang sudah didapat…
nanti malah tidak dapat apa2 lalu nangis gak keruan
Pilihan hidup, disadari atau tidak, tidak pernah tidak sengaja, alias merupakan rangkaian dari apa yang kita lalui sebelumnya…
lalu, mo merengek2 memang kemarin kemana aja Nak….
Blog yang bagus pak… gak nyangka ada juga akademisi seperti Bapak, salam Hormat….
Betul Pak …
Ini betul banget …
saya suka agak bagaimanaaaa … begitu kalau melihat ada mahasiswa yang “rewel” … (hehehe )
Udah jelas diterima di Institut Favorit se Indonesia … masih juga tengil seperti itu …
bukannya di syukuri …
bukan begitu pak ???
Salam
Ass.
pilihan terakhir kali pak, dengan harapan nanti bisa di transfer ke fakultas idamannya.
seize the opportunity….
Saya memang selalu mengatakan demikian pada orang Jepang. Dan kelihatannya tidak cocok dalam pandangan hidup orang Jepang. Alasannya? kalau opportunitynya tidak ada bagaimana?
Saya sendiri bisa sampai ke Jepang dan menjadi seperti sekarang ini dengan berpedoman itu. Mungkin akan lain jika dulu saya tetap ngotot pada pilihan pertama untuk masuk elektro. Dan kalau dirunut ternyata ada benang merahnya, yang waktu itu tidak kelihatan. Baru sadarnya setelah lewat.
salam pak.
Anak-anak tak sadar pak, betapa sulitnya mencari sekolah yang baik, dan biaya terjangkau. Dan kuliah di ITB, tahun kedua sudah bisa nyambi mendapat penghasilan tambahan, karena letaknya di kota besar….banyak sekali peluang yang diperoleh.
(maklum kedua anakku, tahun kedua udah bisa cari uang saku sendiri……namun ngeblognya jadi jarang karena sibuk mengejar setoran….buat manual, buat laporan, tugas dsb nya…malah belakangan baru ngaku lupa pasword…hehehe)
Setuju Pak. Hidup memang pilihan.
Yang tidak bisa dipilih cuma: kelahiran dan kematian.
Kalau kelahiran bisa dipilih, tentu saya akan memilih untuk tidak lahir, ketimbang harus bergumul setiap hari agar bisa berbuat baik dan benar, yg ternyata sering kali gagal.
Kalau kematian bisa dipilih, saya akan memilih mati dalam keadaan baik-baik, pas sesudah berbuat baik, pas semua persoalan di dunia sudah terselesaikan. Tidak punya hutang kesalahan, sudah minta maaf dengan semua orang di mana kita sudah berbuat kesalahan kepada orang.
Maaf, kalau gk nyambung he he he…
btw pa
saya ga merasa salah jurusan, horeeee..
padahal IP sih SARA banget
yang penting do the best kan ya pa, and fit in kan diri..