Bermula dari tulisan mBak Imelda soal air, saya jadi ingat kalau sudah lama ingin menuliskan sedikit soal hemat air ini (bla…bla-nya soal global warming di-skip aja ya? toh sudah banyak dibahas di mana-mana).
Sejak menikah hampir 21 tahun yg lalu, salah satu hal yg membuat saya senang adalah bisa mengatur rumah sendiri (meskipun saat itu masih rumah kontrakan). Mengatur di sini dalam arti ”saya ingin hal-hal tertentu di rumah dilakukan dengan cara yg saya yakini baik”, mulai dari hal-hal kecil yg mungkin tampak sepele. Contohnya adalah dalam rangka menghemat air (20an tahun yg lalu seingat saya orang belum ngomong soal global warming lho).
Konon ada yg sudah menghitung (meskipun by common sense saja sebenarnya sudah jelas) bahwa mandi menggunakan shower jauh lebih hemat air ketimbang pakai gayung. Cuma kadang-kadang orang kita merasa kurang afdol kalau mandi nggak “gebyur-gebyur” pakai gayung, kurang seger rasanya … Tapi meski pakai gayung-pun sebenarnya kita masih bisa menghemat air. Caranya?
Saya menampung air kotor (bekas pakai) dengan meletakkan ember khusus di kamar mandi dan juga di bawah keran yg biasa dipakai untuk berwudlu. Saat mandi, baik pakai gayung maupun shower, air bekas siraman ke tubuh meskipun hanya sedikit diusahakan tertampung di ember tadi. Yg ditampung hanya air yg tidak mengandung sabun, yaitu saat kita belum pakai sabun dan sesudah bersih dari sabun. Sementara air bekas bilasan sabun biarkan saja mengalir ke saluran pembuangan.
Nah, air bekas mandi dan wudlu tadi kalau sudah agak banyak dapat digunakan untuk menggelontor (flush) WC atau membersihkan lantai kamar mandi. Hemat bukan?
WC yg dilengkapi penampungan air untuk flushing yg dulu hanya ada di hotel, sudah banyak digunakan di rumah. Meskipun sudah ada opsi untuk memilih volume air yg digunakan untuk menyiram WC (high/low) kadang masih saja terlalu banyak air yg seolah terbuang. Berdasarkan kebiasaan dan sedikit pengamatan sebenarnya kita bisa memperkirakan kebutuhan air untuk keperluan tsb.
Nah, untuk mengurangi volume air yg ada di dalam bak penampungan kita bisa gunakan botol bekas air mineral (merek apa saja boleh … hehehe) yg diisi air dan ditutup lalu botol itu dimasukkan ke dalam bak penampungan. Otomatis setiap kali flush air yg keluar akan lebih sedikit dari biasanya. Kalau botol yg bisa dimasukkan berukuran 1-2 liter, tinggal dihitung saja berapa kali flush itu digunakan dalam sehari, seminggu, sebulan, setahun, dua puluh tahun … dst. dan berapa penghematan air yg sudah kita lakukan.
Tentu saja kalau tempat penampungan air untuk WC-nya sudah kecil ya nggak bisa dihemat lagi, nanti malah berabe … hehehe. Kita hemat saja air pada penggunaan lainnya.
Hal-hal kecil apa saja yg sudah anda lakukan untuk menghemat air? mari kita share di sini.
wah benar juag ternyata pak, metode hemat airnya.
patut dicontoh ni di rumah tangga2
Wah kalau kamar mandinya kecil, ga ada tempat yang cukup, repot juga dong, Pak?
*Selain repot nampunynya, juga nyimpennya ya? *
Seharusnya:
*Selain repot nampungnya, juga nyimpennya ya? *
kalo di desa saya di ponorogo, air masih melimpah pak. nyiram halaman ya dengan air dari sumur langsung.
FLASHNEWS: ada gempa di laut selatan jawa.
Tip yang bijaksana, apalagi memang air makin sedikit dan pemakainya banyak…..
saya sudah lama tidak menggunakan bak air di kamar mandi, dan menggantinya dg ember. selain gampang membersihkan, juga penggunaan air relatif lebih hemat..
tipsnya ok juga pak… coba nanti saya terapkan
Saya tinggal di tempat yang susah air, maksudnya “tidak terjangkau oleh layanan suply air dari PDAM kota Bandung”, sehingga harus nyedot sendiri air tanah menggunakan jetpump sampai kedalaman sekitar 40 meteran.
Selain melakukan penghematan yang bapak kemukakan, saya kira ada satu hal lagi yang cukup penting dan efektif, yaitu menambah area resapan air. Area resapan dapat dilakukan dengan mengubah bentuk lahan yang kita gunakan dari bentuk yang tidak menyerap air menjadi bentuk yang dapat menyerap air. Misalnya saya sedang berhitung biaya untuk mengubah jalan masuk mobil menuju kandang mobil saya yang tadinya full tembok menjadi grass-blok yang tetap dapat menyerap air.
Hal lain yang mungkin lebih khusus adalah membuat sumur resapan. Saya sedang search informasi ini dan sudah menemukan beberapa info berharga. Hanya, sampai saat ini belum punya gambaran berapa biaya untuk membuatnya. Kalau ada yang pernah membuat dan punya taksiran biayanya, mohon share (arman@kupalima.com).
Mari kita hitung, berapa persen dari area rumah kita yang masih bisa menyerap air? Sisanya yang tidak terserap akan mengalir terus melalui selokan dan jalan-jalan beton dan aspal yang tidak dapat menyerap air, akhirnya menjadi banjir di tempat yang lebih rendah.
Andai semua warga Bandung bisa didorong untuk melakukan penghematan air dan meningkatkan area penyerapan air, kita bisa turut mengerem laju penurunan permukaan air tanah di kota tercinta ini.
Saya berfikir juga, kalau air hujan yang melimpah di bulan-bulan akhir tahun dan awal tahun itu ditampung beberapa untuk flushing juga.
Untuk menyiram -maaf- kotoran saja kan tidak perlu yang terlalu bersih, jadi saya rasa air hujan bisa dimanfaatkan…
Ehmmmm, SDA emang harus dihemat sedemikian rupa… termasuk mencegah dan menghukum pembalakan liar yang menghancurkan hutan kita
Betul pak, untuk mandi memang lebih hemat dengan shower, tapi biasanya untuk instalasi shower banyak yg merasa ribet.
Juga kalo pake bak mandi yg dalam, air yg dibawah kan sering nggak kepake, biasanya baru berkurang sedikit langsung kran dihidupkan untuk mengisi penuh lagi.
Bikin WC kering pakai serbuk grajen dicampur kapur. Jika penuh bisa ditimbun di tanah. Jadi pupuk deh.
Air bekas mandi bisa ditampung untuk menyiram tanaman atau didaur ulang pakai filter pasir.
Lebih hemat lagi.
nyokk , kita berhemat air
Paparan yang pantas jadi renungan untuk dijadikan tindakan harian. Makasih pencerahannya.
Kalau lagi krisis air (baca= pompa air rusak dan musti beli air), biasanya keluarga saya pun begitu Pak…
tapi jeleknya
kalau lagi melimpah, suka lupa juga…
Biar begitu, saya tuh…
selalu matikan keran kalau lagi sikat gigi
dan biasanya…
kalau keramas… saya nyiramnya nunggu sekalian setelah sabunan… biar sekali gerojok, begitu..
wahhh ide juliach mengingatkan saya pada suatu tempat wisata di Kyoto yang masih mengadopsi WC kering itu. Dulu memang di Jepang WC nya WC kering, jadi kalau kita melongok ke lubang yang cukup besar (kadang saya takut anak bayi bisa masuk situ) bisa terlihat kotoran manusia. Tapi anehnya tidak bau sama sekali. Bagi orang non indonesia yang tidak memakai air untuk membilas (hanya tissue) WC kering memang bagus. Tapi sulit jika air tidak bisa kita tinggalkan dalam kebiasaan manusia yang paling hakiki ini.
Bahkan sekarang Jepang menyadari pentingnya membilas pakai air, sehingga mereka menciptakan bidet-bidet canggih pakai temperature adjusting/ human sensoring segala (http://imelda.coutrier.com/2008/04/10/otomatis-malas/)
…… sampai pada bidet portable (yang sebetulnya bisa pakai botol bekas saja)
EM
@Ikkyu_san
Masa WC kering tidak bau sih?
Zaman dulu waktu saya masih kecil, di rumah kakek saya WC nya seperti itu dan baunya nauzubillah…Kita sampai tahan nafas dan menutup hidung pake baju kalau lagi buang hajat….
Capek deh….
Btw, menampung airnya harus pake ember yang besar ya Pak?
Di tv kayaknya pernah ada juga sistem seperti ini sebagai salah satu inovasi…
Kira2 sistem seperti ini sudah dijual di toko2 sanitair?
Salam saya Pak, Maaf komentarnya terlambat banget…