Tulisan ini sebenarnya merespons komentar teman-teman atas posting saya di humor politik Bush. Karena agak sedikit panjang untuk ukuran komentar jadi saya post sebagai tulisan tersendiri. Kebetulan saya juga sedang tidak punya ide untuk menulis hal lain. Ini juga sekaligus membuka “rahasia” dari mana saya peroleh humor semacam itu.
Ada usul agar joke tsb. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan berbagai tujuan yg mungkin saja hanya sekedar bercanda. Tapi saya kok menanggapinya serius banget ya? Saya kira hal tsb. tidak perlu karena di luar sana sudah banyak joke semacam itu. Apalagi yg tidak suka Bush juga banyak di mana-mana, sehingga ada yg sampai melemparnya dengan sepatu …
Saya juga pernah “dikritik” bahwa humor yg saya tulis di blog ini pernah dia baca somewhere. Saya bilang -kecuali pengalaman nyata dan pengalaman pribadi- pada dasarnya humor/joke sudah jadi semacam “folklore” yg diceritakan oleh banyak orang dari masa ke masa dan dalam berbagai bahasa. Itu kata Prof. James Dananjaya dari UI dalam salah satu buku yg pernah saya baca.
Jadi kalau kita banyak baca, pernah tinggal dan belajar budaya dari daerah lain tentu banyak wawasan dan perbendaharaan humor atau joke. Ada yg sangat khas misalnya plesetan kata yg nggak bisa diadaptasi atau diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Ada pula yg cukup umum dan fleksibel sehingga bisa dimodifikasi bahkan dalam konteks yg sangat berbeda.
Yang membuat suatu humor berbeda adalah adaptasi yg dilakukan oleh penulis/penutur-nya sehingga relevan dengan lingkungan, budaya, situasi. Bagian akhir joke juga bisa di-’pelintir’ (twisted) secara berbeda dari cerita lucu aslinya yg mungkin juga sudah mengalami modifikasi. Demikian seterusnya.
Pernah dengar joke tentang penumpang yg rebutan parasut di pesawat yg akan jatuh? (dimana ada yg salah mengambil tas punggung seseorang). Joke tsb. pernah sangat pas diadaptasi dengan pelaku tokoh-tokoh politik Indonesia pada periode tertentu. Juga dengan cerita mengenai tiga kepala negara yg dipanggil bertemu Tuhan lalu mereka menceritakan ke rakyatnya adanya berita baik dan berita buruk dengan berbagai variasinya?
Uraian saya tsb. di atas tentu tidak berlaku kalau kita bisa membuat joke yg ide-nya benar-benar murni 100% ide kita sendiri. Ada yg punya? (hayo ngacung !).
In the mean time mungkin ada baiknya kita mencoba menceritakan kembali satu joke dengan variasi dan ending yg berbeda dari joke aslinya. Bagaimana, mau mencoba?
waduh kalau buat joke sendiri pasti susah lah pak. Mungkin bisa (seperti permainan kata-kata) tapi biasanya juga akan berbeda jika mau menuangkannya dalam bentuk tulisan (lebih lucu kalau dalam lisan).
Yang pasti misalnya saya tidak bisa menyampaikan joke dalam bahasa Jepang kepada teman-teman yang tidak mengerti bahasa Jepang sama sekali. Karena kalau diterjemahkan tidak akan ada artinya sama sekali.
salam saya pak
EM
Tulisan ini serius banget pak.
Saya pikir bakalan kocak… tertipu deh…!
Tuh saya punya cerita The Most Bodor Ever, Pak!
saya pernah bikin joke analysis seperti ini, pak
-> Ikkyu_san
Memang sih tidak semua joke bisa diterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain. Tapi kadang ide dasarnya bisa digunakan untuk membuat joke yg cocok dengan situasi dan bahasa kita. Nanti saya cari contohnya dulu ya …
-> mang kumlod dan rani
Terima kasih link dan info-nya.
kirain humor yang bakl ngocok perut…
tapi bagus-lah infonya…
Apa lagi kalo di marseille sama di nice, pak guru, pasti lebih hangat dan salju juga gak pernah mampir kayaknya. Dulu saya sempat juga mampir ke monaco 2 kali malah, kok ya hangat.. padahal di sepanjang perjalanan, strassburg, lyon badai salju. Perancis juga hebat teknologinya, setaraf lah sama jerman, cuma orang perancis lebih asik kyknya, suka ngobrol dan orangnya kemayu.. heheheh
Bapak selain penggemar berat kopi ternyata juga penggemar lelucon / joke ya ? Terus keluarin koleksinya dong Pak ?
Ssaya tidak pandai melontarkan Joke Pak..
Bisanya cuman ketawa ajah he he he..
Selera joke orang beda-beda sih. Saya sendiri punya style joke yang berbeda pak. Ada yang suka, ada juga yang muak. Hehehe
saya suka baca humor gusdur
fresh, menggelitik dan smart
, bagaimana menurut bapak ? dan saya tidak suka joke nya dono,kasino , indro, tawa sutra xl dan juga tukul
-> Puceb
Iya sih, tergantung audiens dan lingkungan juga Pak. Kalau di lapangan (field) biasanya isinya laki-laki semua dan joke-nya agak menukik ke yg parno, katanya sih untuk menghilangkan stress … hehehe
-> Hilal Achmad
Humor Gus Dur sebagian besar saya juga seneng Pak, kejutannya itu lho yg nggak nyangka. Tapi ya cuma itu yg saya seneng dari Gus Dur … hehehe
Kalau yg lain itu umumnya masuk kategori “slapstick” ya, lucu-lucuan karena gerak-gerik dan tingkah laku jadi lebih mirip ke konyol …
Biarpun joke itu mungkin sudah ada di milis atau dimanapun, cara penyampaian masing-masing orang akan berbeda.
Ini bisa dilihat mis. cerita rokok, tak sengaja saya dan Yoga menulis pada waktu hampir sama, walau tak janjian…saya dan Yoga cerita yang sama, tapi dari sudut pandang yang berbeda…
Juga seperti orang cerita menghadiri pesta blogger, betapa banyaknya yang cerita tentang acara tsb, tetap saja masing-masing punya gaya tersendiri dan tak bosan.
Yang terakhir ceritanya Yoga, sama-sama Timun Mas, dan saya pernah membaca di blognya mas Roviscky, tapi tetap aja beda rasa dan beda gaya.
Terus menulis pak…jokenya lucu2 kok…dan penyampaian bapak dengan gaya yang beda, membuatku tersenyum sendiri (kenapa ya kalau baca tulisan bapak, selalu membayangkan foto bapak yang sedang tersenyum itu)
Di sini kalo mo nglucu harus pilih-pilih dulu. Bikin joke, tapi yg lain ngak ketawa malah terlihat aneh. Kadang bingung juga ngeliat orang tertawa berbahak-bahak padahal joke-nya ngak lucu menurutku.
Ketika di Dijon, aku menerangkan kepada teman-teman Indonesia (jadi guide nih critanya) “Mengapa Tim(orang) Perancis memilih maskot ayam jago?”, ketika di depan Kantor Pos pusat yang di gedungnya ada relief/patung ayam jago. Karena tak ada yg menjawab, maka aku jawab sendiri :”karena ayam jago bisa berkokok/bernyanyi di atas kotoran (Parce que le coq peut chanter sur la merde)” dan aku ngakak sendiri, yang lain tidak.
Setelah aku terangkan :”bahwa orang Perancis masih saja bergembira dalam kedukaan/problem”, mereka juga masih ngak ngerti. Dan baru ngerti setelah diberi contoh: Orang Perancis tetep aja bergembira/pesta walaupun tidak lulus ujian di kampus/di DO!
Kali ini mereka tidak tertawa, malah bertanya-tanya…….