Kemaren hari Selasa 26 Mei 2009 di gedung Sasana Budaya Ganesha ITB diselenggarakan Puncak Peringatan Hari Pendidikan Nasional yg dihadiri oleh Presiden SBY. Saya sebenarnya dapat undangannya, namun saya tidak menghadiri acara tsb.
Saya pikir hadir pada acara-acara seremonial seperti itu antara perlu dan nggak perlu ya ? Kadang saya merasa perlu hadir untuk sekedar bersosialisasi (biar nggak kuper-kuper amat) dan refreshing, tapi juga tidak perlu memaksakan diri jika sedang punya banyak hal yg harus saya selesaikan (yg notabene tidak jauh dari urusan pendidikan).
Jadi kalau saya tidak hadir di Sabuga kemaren bukan karena tidak ada tebengan di jalan seperti cerita saya sebelumnya ini … hehehe. Saya juga merasa sudah cukup refreshing saat acara Dies Emas ITB yg dihadiri Wapres serta ceramah dari Pak Rhenald Kasali beberapa waktu yg lalu (yg belum sempat saya ceritakan di sini).
Pada waktu-waktu seperti ini yaitu masih dalam nuansa memperingati Hari Pendidikan Nasional lalu mendekati tahun ajaran baru, salah satu yg sering jadi sorotan adalah soal anggaran pendidikan dan biaya pendidikan. Sementara itu di sisi lain iklan sekolah gratis di media televisi sempat menohok perhatian banyak orang. Gencarnya iklan tsb. sekaligus momennya yg berdekatan dengan pemilu baik legislatif yg lalu maupun pilpres yg akan datang tak urung memancing kecurigaan sebagai bagian dari kampanye terselubung.
Coba berapa kira-kira biaya pembuatan iklan tsb. yg menghadirkan Cut Mini sebagai bintang utama dengan membawa nuansa laskar pelangi-nya. Lalu berapa biaya penayangannya ? Semuanya itu ditanggung / dibiayai negara …
Belum lagi pertanyaan-pertanyaan dalam tataran pelaksanaan. Rasanya banyak yg tidak yakin kalau sekolah bisa bener-bener gratis. Kebetulan anak-anak saya tidak ada yg bersekolah di sekolah negeri. Tapi teman-teman yg anak-anaknya di sekolah negeri sering cerita kalau masih banyak harus bayar tambahan untuk ini-itu. Meskipun tidak mengalaminya sendiri, rasanya cerita seperti itu cukup dapat dipertanggung-jawabkan. Apalagi banyak juga pemberitaan dengan subtansi yg sama.
Jadi kalau meniru iklan-iklan yg banyak menggembar-gemborkan diskon, bonus, gratis dll. (padahal sebenernya enggak) maka “iklan” atau kampanye sekolah gratis itu perlu diberi catatan di bawahnya dengan tulisan kecil-kecil : syarat dan ketentuan berlaku.

Sekolah gratis asal pelayanan dan fasilitasnya tidak seadanya….
hati2 lo Pak kritik ke “iklan” hehe….(khan Oemar Bakri takut sama polisi ) hihihi….
== lha itu sudah ada kecualinya di pamflet iklannya >> tinggal masukin saja semua sekolah negeri ke “area pengecualian” ==
Saya rasa ini adalah salah satu bentuk pembodohan terhadap masyarakat kita bahwa menuntut ilmu/pendidikan harus gratis. Akhirnya ujung2nya kita jadi terbiasa untuk tidak mengambil peluang untuk meningkatkan kemampuan diri bila harus membayar, apalagi mahal. Padahal banyak spesialisasi yg benar2 membutuhkan dana yang banyak. Sebaiknya pemerintah tidak mengatakan gratis tp akan membantu semaksimal mungkin untuk menekan biaya2 yg ada, terutama menghilangkan pungutan2an liar. Sistem beasiswa untuk siswa yang berprestasi seperti yg sudah ada itulah yg emang patut dipertahankan.
Kita seharusnya menanamkan pada generasi kita bahwa selain membutuhkan usaha & semangat yg kuat, tentu saja biaya perlu untuk beli buku, bayar guru (terutama untuk guru sekaliber Oemar Bakrie) dsb.
Terakhir….pendidikan ngga hanya didapat disekolah…bagi keluarga kami sekolah itu racun… my daughter&son will never go to school.
Mudah-mudahan sekolah ‘gratis’ ini membawa kebaikan bagi banyak pihak. Niatnya pasti baik kan ??
(*) syarat dan ketentuan berlaku …
hhhmmm … iya ya pak …
di sini (surabaya) SD & SMP negeri sudah gratis lho pak…
malahan iuran Rp.2000 per bulan untuk bangun mushola aja gak boleh…
jadi mestinya kalo top manajemen negara yang perintah .. bisa kok pak..
Bagus kalau begitu. Mudah-mudahan nantinya semakin banyak yg seperti itu. Saya juga yakin kok kalau niatnya baik … Hanya tinggal mengupayakan implementasi yg lebih baik saja. Dan juga kalau mau sosialisasi ya biasa saja, tidak usah pakai gambar siapa yg sedang “berkuasa” -nya … hehehe
Mungkin perlu juga catatan tambahan seperti pada iklan obat itu ya pak ? Jika sakit berlanjut hubungi dokter = Jika pungutan berlanjut hubungi KPK …
)
Saat pak Harto masih menjadi Presiden dan menterinya pak Wardiman, saat itu juga direncanakan sekolah gratis (tahun 96-97 an saya kira)…entah kenapa kok gaungnya jadi hilang.
Sebetulnya memang seharusnya ada kewajiban belajar, minimal untuk 9 tahun, dan mutunya harus tetap dapat dipertanggungjawabkan.
Hhmm…Sebenarnya dan seharusnya memang ada tim pemantau independen bagi kebijakan2 yang disuarakan oleh wakil wakil rakyat kita ini..
Jadi semua janji2 di arsipkan dan pada kenyataannya harus bisa dipertanggung jawabkan, bukankah begitu..???
Salam hangat Bocahbancar..
Bocah yang sedang belajar memaknai kehidupan….
waaaaaah… jadi kangeeeeeeen… ITB… my greeeen campus.. daaaah banyak berubah yaaaa…
Salam Sayang
di jogja, terutama sekolah anak saya, sudah benar2 gratis pak… sudah ada ancaman dari pemda bagi sekolah yg berani menarik biaya apapun dari siswa… semoga ini tidak mengurangi kualitas pendidikan kita ya pak
Sekolah gratis ini tidak realistis. Biaya BOS itu cuma Rp 400.000. Sementara menurut pakar pendidikan biaya pendidikan di sekolah negeri itu sekitar Rp 1.5 juta baru benar2 gratis. Jadi selisihnya masih besar…
Kesimpulannya: Sekolah Gratis*
*Syarat dan Ketentuan Berlaku
Sekolah negeri gratis, yang masuk anak-anaknya pejabat pemerintahan … sedang anak-anak jalanan masih keluyuran lampu merah.
Yang paling baik adalah sekolah dan Pemda harus mencari murid-murid khususnya yang tidak punya alias miskin … bila mereka tidak ada transport ya harus dijemput…
Tuh loh kayak Les enfants des voyagers (bilang= anak-anak orang nomad/gitane).
Ya jika ada promosi itu … semoga saja pendidikan dasar bisa dijangkau oleh semua kalangan.
Biaya acara Hardiknas di Sabuga kemarin konon menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi biaya iklan seperti yang bapak ungkap di atas.
Yang ada dalam pikiran saya hanya: “Coba biaya untuk acara seremonial dan iklan itu digunakan untuk merenovasi sekolah2 yang terancam rubuh, bisa berapa sekolah tuh yang akan terselamatkan”
Setuju Pak.
Jangankan yg memang ada perayaan seperti itu, konon kalau ada tamu pejabat tinggi negara di suatu institusi maka institusi tsb. harus menyediakan dana untuk biaya macem-macem salah satunya untuk pengamanan.
Di satu sisi pengennya sekolah gratis, di sisi lain masih banyak sekolah yg kondisinya sangat memprihatinkan.
saya juga awalnya skeptik dengan ide ini..
pi, ternyata ada juga skul gratis di daerah2..karena sekarang jamannya otonomi daerah, mungkin skul gratis kini menjadi tanggungan pemda masing2…
so, skul gratis, why not!!
Assalaamu’alaikum…maaf Tuan Oemar Bakri, saya tidak faham maksud istilah sekolah “GRATIS”….ya..maklum sahaja bahasa kita berbeda.
Semoga apa-apa yang bersangkut pau dengan pendidkan dan manfaat buat anak-anak didik harus mendapat perhatian dari sesiapa sahaja bukannya untuk mencari keuntungan. Kerana jika anak-anak didik berjaya, yang beruntungnya adalah negara dan bangsa itu sendiri. Salam hormat.
sekolah gratis dengan fasilitas super duper Mantap..
itu baru bener…:D
Kalau aku sih sekolah gak pa-pa bayar, tapi kalau bisa perlengkapan sekolah dan jajannya gratis hi…hi…hi….
Popop
(tukang jajan… )
Wah protes iklannya lumayan pedas juga….
But itulah kehidupan kita…
Mencoba memberi pendapat di zona yg berbeda….
Pendidikan gratis itu perlu…namun kualitas nya juga wajib…nah di indonesia, meningkatkan mutu itu sama dengan meningkatkan kesejahteraan para pelaku pendidikan…dan sayangnya…kesejahteraan itu lah yg tak didapat….
Bagaimana mau meningkatkan mutu pendidikan…cuma koar-koar doang petinggi negeri ini….(sebagiannya khan begitu…)
tapi masih ada keharusan beli buku dll ndak toh ini?
saya ndak ngikutin….
Syarat dan Ketentuan Berlaku –> dan ditulis dengan huruf yang paling kecillll….
Semoga saja sampe saya punya anak…. Sekolah Gratis ini
Apa ya? Sekolah gratis, saya sebagai kepala sekolah cukup bingung jika akan sosialisasi kepada wali murid, memang sekolah yang saya pimpin tidak memungut biaya dengan orang tua, tapi apa iya, saya contohkan saja, misalnya
1. sekolah mau mengadakan perpisahan itu dana dari BOS dak ada.
2. terus anak-anak mau pakai baju seragam biar baguslah tapi gak bisa dibelikan melalui dana BOS,
3. terus anak mau eskul, gurunya dak mau dibayar dengan dana BOS yang perjamnya belum ada ketentuan dari Diknas, jika dikasih 20000 per jam katany enak ngojek bisa dapat 100000 ribu per jam.
4. terus paling-paling remedial, itupun meragukan karena dianggap manipulasi, artinya ngajar yang sebenarnya gak serius tapi jika remedial serius,
5. trus jam remedial dilakukan pada jam kerja,
6. mau melakukan kegiatan KKG,KKKS katanya ada Bloggrant
jadi yang bisa ya
1. beli Spanduk
2. Beli gula kopi untuk minum guru.
3. beli ATK dan barang habis dipakai
4. Foto copy LKS dan ulangan
5. Beli peralatan pengganti yang rusak
6. bayar langganan listrik
7. bayar tenaga honor (ini yang ironis, yaitu banyak yang mau honor anehnya para honor mulanya gak minta bayaran supaya diterima tapi setelah di terima dan mendengar ada dana BOS mereka minta jatah, mending kalau cuma 1 orang ini sampe 5 orang, gak diterima gak enak diterima jadi beban, akhirnya habisuntuk bayar guru honor sampe 50%. parahnya lagi para honor tu lulusan SMA dan sederajat karena ada iming-iming akan diangkat pegawai jika honor)
8. Bagaimana jika murid tu paling banyak 90 orang, apa gak bikin pusing kepala sekolah aja.
9. kegiatan berikutnya ngebon karena dana turun tidak tepat waktu,
10. jadi kepala Sekolah ya Nombok dulu, kalau gak mau nombok jangan banyak kegiatan nunggu aja perintah.
11. sekolah di pedesaan pada umumnya muridnya antara 35 sampe 150 orang tiap desa bisa dilihat di NISN rekap data per sekolah.
12. jika mau gratis ya bisa saja tapi jangan banyak tuntutan yang neko-neko sebab guru SD /SMP punya anak yang juga harus di Pikirkan
terimakasih.
aduh…
kita butuh kebenaran di sini..
klo memang ada sekolah gratis ya gratis…
aku berharap ga dipungut apa apa
Seumur-umur baru kali ini saya lihat pamflet dinas pendidikan dengan latar warna biru
gratis selama kampanye doank, ntar kampanye abis bayar lagi dah
Omar Bakrie: Sekolah Gratis ?…
Gencarnya iklan tsb. sekaligus momennya yg berdekatan dengan pemilu baik legislatif yg lalu maupun pilpres yg akan datang tak urung memancing kecurigaan sebagai bagian dari kampanye terselubung.
Coba berapa kira-kira biaya pembuatan iklan tsb. yg men…
…salam kenal Pak…apa boleh saya minta tukeran linknya?….terima kasih sebelumnya….
Silakan saja. Thanks.
terima kasih banyak ya Pak …sebelumnya maaf kalau merepotkan, tolong di link balik ya Pak…..saya teman kecilnya Ikkyu San…kalau Mas Budi Rahardjo baru saja kenal….sekali lagi terima kasih…
Saya kira kita sebagai orang Indonesia mulai saat ini hendaknya bisa bersikap jujur, maksudnya kegiatan disekolah sedapat mungkin disesuaikan dengan dana yang tersedia.