Tulisan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pilpres yg akan datang. Meskipun judulnya bisa saja berasosiasi dengan urusan pilih-memilih …
Hampir dua minggu sekali atau minimal sebulan sekali kami sekeluarga selalu mampir ke toko buku kalau sedang jalan-jalan ke mall. Kami biasanya betah berlama-lama di toko buku untuk melihat-lihat, meski kemudian cuma beli satu-dua buku saja. Kalau kebetulan saya sendirian bisa lebih lama karena kuatnya pertentangan antara keinginan untuk beli buku-buku yg menarik dengan terbatasnya kemampuan, baik kemampuan kantong maupun kemampuan meluangkan waktu untuk membacanya kelak … hehehe.
Kalau aktivitas tsb. sampai terlewat karena sesuatu dan lain hal, pasti anak-anak sudah menagih, ”kapan kita ke toko buku lagi? … “ Permintaan yg cukup sederhana dan alhamdulillah masih bisa saya penuhi. Jadi saya tidak terlalu merasa berdosa kalau week-end atau liburan sekolah kadang saya tidak bisa mengajak anak-anak rekreasi ke tempat-tempat yg lebih “wah” …
Saya lebih sering membeli buku dari genre tertentu saja, seperti buku tentang motivasi, pengembangan diri, komunikasi dan yg semacamnya. Kadang saya “menertawakan” diri sendiri, sudah seumur segini kok ya masih baca buku seperti itu, apa nggak sudah telat? hihihi … Anak saya yg sulung sampai hafal dan sering mempertanyakan jenis buku yg saya beli. Saya biasanya “ngeles” sekaligus ”menghibur diri” bahwa saya kan banyak berinteraksi dengan mahasiswa, anak-anak muda, jadi rasanya nggak salah-salah amat kalau masih baca buku sejenis itu.
Mungkin karena seringnya ke toko buku dan punya kesempatan untuk lihat-lihat sepintas isi berbagai buku maka tak jarang saya percaya saja dengan judul dan sinopsis yg ada di sampul belakang buku. Saya pilih tanpa melihat isinya lebih jauh, bahkan yg masih terbungkus plastik (belum ada sampel yg sudah dibuka bungkus plastiknya). Apalagi kalau anak-anak sudah menemukan buku yg menarik dan ingin segera ke tempat lain.
Saya pernah “salah” beli buku karena ternyata terjemahannya nggak karuan, susunan kalimatnya acakadut sehingga malah bikin bingung. Saya juga pernah mendapati buku yg ternyata ada beberapa halaman dalamnya kosong, tidak tercetak teks-nya. Mau mengembalikan sudah males. Untungnya harga buku itu tidak terlalu mahal dan masih bisa di-skip bagian yg kosong tadi (ya iyalah, masak mau memaksakan diri untuk membacanya? … hehehe).
Kejadian beberapa waktu yg lalu membuat saya mungkin perlu mempertimbangkan kebiasaan saya membeli kucing dalam karung alias membeli buku dalam plastik. Pasalnya saya beli buku berjudul “Komunikasi untuk Sukses” di situ tertulis dengan jelas pengarangnya B. Gilbert. Ternyata buku itu sama persis dengan buku yg sudah saya beli jauh sebelumnya yaitu buku Larry King dengan judul “Seni Berbicara”. Saya tidak menyangka karena gambar/desain sampulnya beda. Kalau ditulis pengarangnya Larry King (bersama B. Gilbert) saya pasti tahu kalau itu buku yg sama. Apalagi buku yg sudah agak lama itu sudah ada edisi revisinya.
Seminggu sebelumnya, gara-gara merasa nggak ngerti pelajaran Kimia (dulu, sekarang apalagi … ) maka saya main ambil saja buku komik tentang Kimia karangan Larry Gonick. Buku komiknya yg lain tentang Fisika dan Statistik saya sudah punya. Maksud saya, anak-anak nantinya bisa lebih tertarik dan bersemangat terhadap pelajaran-pelajaran tsb. kalau bukunya dalam bentuk komik seperti itu. Begitu sampai rumah istri saya bilang, “buku itu kan kita sudah punya” … oalah. Pantesan waktu mau beli kok saya ragu-ragu, serasa DEJAVU … Rasanya itu bukan buku baru, mestinya dulu waktu baru terbit tentu saya sudah pengen dan beli. Kalau ini sih bukan beli buku dalam plastik tapi bener-bener linglung … hahaha.
Untungnya, sudah ada yg siap menampung buku-buku “redundant” tadi. Oleh istri saya buku-buku tsb. diberikan kepada salah seorang yunior di kantornya. Karena faktor usia, istri saya merasa bertanggung-jawab dan perlu membina yunior tsb. Mungkin dipikirnya saya belum perlu karena selama ini di kantor saya masih terus dianggap yunior? … hiks …
Ditunggu “the cartoon guide to EM Exploration” atau “the cartoon guide to Geophysical Inversion” karangan Dr. Hendra Grandis
hehehe bapak… kalau saya mah sering sekali “terbeli” dua buku yang sama…. sama plek persis lagi. Soalnya selalu buru-buru kalau belanja kan. Dalam satu bulan mudik itu cuma beberpa kali bisa ke toko buku jadi lupa sudah pernah membeli apa saja, atau lupa apakah sudah ada belum di rak buku di Jepang. Dan kejadian ini bukan hanya pada buku, tapi juga CD dan VCD Indonesia. VCD “heart” bisa sampai 3 lembar hihihi… akhirnya saya kasih orang sebagai oleh-oleh.
EM
Kalau saya jarang sih beli buku yang sama plek karena saya selalu hati2 dalam memilih buku. Saya selalu mencari buku contoh yang sudah dibuka sampulnya.
[...] Read more: Beli kucing dalam karung … « Oemar Bakrie [...]
Selamat Pagi pak..Pak mau nanya..Saya membutuhkan data survei lapangan geothermal yang menggunakan central loop TEM..Bapak ,,,punya data-data lapangan geothermal menggunakan central loop TEM nggak pak???Kalau minta data lapangan ke PERTAMINA kira2 bisa gak pak ya??terimakasih pak..
Saya tidak punya. Mungkin bisa ke Pertamina Geotermal atau Elnusa
kalau saya se biasanya cari yang sudah terbuka atau ada buku bacanya…
tapi saya pernah juga beli kucing dalam plastik yang ternyata isinya tidak seperti yang saya bayangkan…akhirnya yaa jadi ogah-ogahan bacanya (tp yg lebih parah lagi kalo buku potokopi-an dari lab ato kuliah yg sengaja dipotokopi, eh ternyata jg gak dibaca. hahaha)
btw sekarang senang juga koleksi e-book PDF, entah dari donload ato sedot saja dari FTP2. (dan kayaknya tidak mungkin ada waktu buat baca pdf sebanyak itu)hehehe…yahh…buat ngisi space hardisk saja kali’(semoga nanti bisa membuat server perpus-digital mandiri)
Aku tertarik dengan situasi ..
“Lho itu kan buku yang sudah pernah kita punya ???”
hahahaha … mulai linglung ya Pak …
Kalau saya …
Beli buku … supaya ndak salah …
Mesti lihat komentar orang dulu / resensinya …
entah di Koran atau di Blog …
akibatnya …
Ya suka ketinggalan cerita saya …
hehehe
keluarga dan beberapa teman dekat saya juga sudah sangat mengerti dg genre buku saya. dan juga mereka sudah hapal dg kebiasaan saya menghadiahi buku kepada mereka di hari2 spesial mereka. oleh karenanya, mereka juga berbuat yg sama kepada saya. pernah ketika saya ultah dulu, beberapa teman dekat menghadiahi saya buku. dan ternyata, bukunya sama persis, yaitu novel Toto Chan, gadis kecil di depan jendela. tidak hanya dua, tapi sampai 3 eksemplar buku yg sama, huahaha….
Dulu sih gitu Pak, tapi sekarang engga deh… Mendingan tanya dulu sama orang yang sudah baca. Apalagi buku terjemahan, mesti tanya dulu, apakah terjemahannya bagus atau ngga? Pengarangnya bagus, penerjemahnya kacau, bikin pusing.
Sekarang untungnya punya kenalan blogger sebagai reviewer. Jadi tau, buku apa aja yang bagus sebagai wishlist…
TOP dah…
lain kali bukunya buat saya saja pak, kapan bisa saya ambil ? (ngarepdotcom)
GA DA MATINYA DAH NE BLOG
O YA,,PAK GRANDIS YANG TERHORMAT,,BOLEH TUKERAN LINK GAK???
KABARIN YA
Silakan saja …
Hahaha…ada beberapa pengarang yang terkadang tulisan antara buku satu dan lainnya hampir sama….(saya tak boleh menuliskannya disini, nanti terkena pencemaran nama baik). Dari obrolan bersama teman, anakku dan teman2nya, ternyata mereka sering tertipu oelh nama itu juga.
Dan saya juga pelupa, sering beli buku, yang ternyata pernah dibeli…hehehe
Memang mestinya dibaca dulu sepintas isinya….ini yang membuatku malas beli buku kalau tak ada contoh yang sudah dibuka.
Berarti sedang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menyumbangkan salah satu bukunya yang mirip Pak
Sepertinya membaca sampel buku memang ada baiknya, ya, pak…
Sehingga kita tidak salah beli…
Kalo Putri dulu salah beli VCD…rencananya mo beli film rumah hantu..eh..yang ada di dalam kasetnya malah film orang yang sedang kelaparan…he..he..
[...] saya untuk presentasi dengan banyak membaca buku. Rasanya salah satu buku tentang presentasi sudah pernah saya singgung di blog ini (meskipun bukan tentang isi-nya). Saya juga masih punya seabreg koleksi buku mengenai presentasi [...]